TRUE STORY: Laa Tahzan!! Klo Sudah Rejeki Tak Akan Kemana

Ini kisah nyata!! Bagi anak kelas 3 sma setiap jelang ujian nasional sudah menjadi rutinitas untuk ikut try out soal-soal ujian. Sepertinya kegiatan ini menjadi acara wajib jika mau lulus atau setidaknya mendapatkan hasil ujian yang baik. Di awal tahun 2000 saya juga terbawa arus karena sebagian besar atau mungkin semua teman sekelas ikut try out yang diselenggarakan oleh salah satu Bimbel di Kota Solo. Mungkin itu try out terbesar yang ada waktu itu dan ini adalah try out pertama kali yang saya ikuti, dan menjadi satu-satunya try out jelang ujian yang saya ikuti. Saya bukan siswa yang ikut bimbel, boro-boro ikut bimbel bayar SPP saja dapat subsidi pemerintah hahaha...

Singkat cerita, hari pelaksanaan telah tiba, tak ada persiapan khusus yang saya lakukan. Dan tak ada gambaran sedikit pun seperti apa try out itu, maklum ini kan try out ujian nasional yang pertama dan terakhir yang saya ikuti sepanjang hidup saya, hehe. Saya hanya bermodal semangat dan optimisme untuk datang tepat waktu dan mengikuti saja aturan serta niat lillahi ta’ala. Saya tiba beberapa menit sebelum dimulai dan gedung pertemuan yang dijadikan tempat pelaksanaan try out di sudut kota itu sudah dipenuhi oleh siswa-siswa yang akan menjajal kepinterannya.

Soal mulai dibagikan dan seperti biasa tanpa ritual khusus, hanya doa Basmallah saya panjatkan sebelum mengerjakan. Soal tidak mudah dikerjakan, banyak tipikal soal-soal yang bahkan baru saya temukan. Pusing iya, tapi sekenanya saja saya kerjakan dan waktu sudah habis. Semua jawaban dikumpulkan panitia yang bertugas. Kini waktunya mengumumkan hasil dari try out tersebut. Dari selebaran try out yang saya terima sebelumnya, bagi 3 besar nilai tertinggi akan mendapatkan hadiah dari panitia. Saya sih yakin tak akan menjadi salah satu dari ketiga juara itu, boro-boro mikirin juara, ngerjain soal aja ngos-ngosan. Panitia mulai menyebutkan nomer peserta dari nilai tertinggi ketiga, dan lalu kedua dan mereka maju ke depan menerima hadiah yang telah disediakan panitia. Tak satupun teman dari sekolah saya yang terpanggil apalagi saya haha...

Lalu tiba saatnya panitia memanggil nilai tertinggi. Peserta dengan nilai tertinggi yaitu nomer peserta......3015! Jegerrr ....kaget bukan kepalang, kayak ada durian montong yang jatuh di kepala. Wah itu nomerku, dan temen di sampingku, teman satu sekolahan meng iyakan. Wah bener fin, itu nomermu...ayo maju, ambil hadiahnya! Saya bukannya maju malah bingung, pucat pasi, badan panas dingin, jangan-jangan panitia salah sebut, ntar klo maju malah malu, diketawain. Tapi ....panitia kembali menyebutkan nomer peserta, dan itu menyakinkanku klo nomer peserta yang disebut adalah nomerku. Langsung saya maju ke depan, dan ternyata dari baris paling kiri ada seorang siswa yang juga maju...waduh! kuserahkan nomer peserta ke panitia, dan siswa itu juga menyerahkan. Dan ternyata nomernya sama alias kembar. Panitia bingung, dan tak mungkin meng-verifikasi dengan dikasih soal ujian lagi untuk memastikan siapa yang bener. Akhirnya panitia memberikan hadiah baik ke saya dan siswa tsb.

Saya panas dingin, karena tak percaya bisa mendapatkan hadiah dengan nilai tertinggi, hati berkecamuk, dan bertanya-tanya, siapa yang sebenarnya nilai tertinggi! Tapi bener kok nomer peserta yang dipanggil ...ah bodo amat lah yang penting dapat hadiah begitu pikirku. Teman-temanku pun menyangsikan akan nilaiku. Pastilah! Masa iya saya lebih pintar dari mereka hahaha....ternyata ada temanku yang kepo dan penasaran setengah mati yang akhirnya selesai acara menanyakan panitia. Keesokan harinya saat di sekolah temanku yang tanya kepada panitia tadi memberitahuku bahwa saya bukanlah yang menjadi peserta yang nilainya tertinggi tapi siswa dari sekolah lain yang nilainya tertinggi. Saya sih santai saja, dan dalam hati bertanya “tak perlu kau tanya ke panitia, saya bisa memberi tahu apa yang sesungguhnya terjadi hahaha”. Ah tak perlu dipikirkan ...yang penting saya sudah dapat hadiah dan itu keberuntunganku. Ini bukti bahwa jika rejeki itu sudah jatah kita pasti tak akan lari ke yang lain. Bahkan sesuatu yang mustahil dan di luar pikiran kita pun klo sudah rejeki ya rejeki, dan tak bisa ditolak. Begitu juga sebaliknya, kalau bukan rejeki, meskipun itu sudah di depan mata ya tak akan datang kepada kita. Jadi jangan bersedih!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisa Standar Isi Mata Pelajaran PAI Tingkat SMP dan MTs

KONSEP PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP, DASAR PEMIKIRAN DAN IMPLIKASINYA

THAHARAH, WUDHU DAN TAYAMUM