KONSEP PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP, DASAR PEMIKIRAN DAN IMPLIKASINYA


By Muhammad Arifin


I. PENDAHULUAN
Pendidikan adalah kewajiban bagi setiap insan manusia, tidak mengenal usia dan kekayaan seseorang. Karena hanya dengan belajar kita dapat mengetahui apapun yang ada di dunia ini. Hal ini juga penting baik untuk kemajuan individu ataupun kemajuan mayarakat dan dunia pada umumnya. Pendidikan tidak hanya bisa diraih dari pendidikan formal atau sekolah formal, tetapi juga bisa diraih melalui pendidikan non formal maupun informal. Karena pentingnya pendidikan dalam keberlangsungan hidup manusia maka lahirlah istilah pendidikan seumur hidup atau life long education.
Lahirnya konsep pendidikan seumur hidup adalah bagian dari keprihatinan pada dunia pendidikan yang ada, karena masih banyak masyarakat yang tidak bisa menikmati pendidikan pada dunia formal. Konsep pendidikan seumur hidup sangat erat kaitannya dengan pemahaman waktu berlangsungnya pendidikan. Dan dapat dibuktikan dalam pengertian, dalam sikap, perilaku dan dalam penerapan terutama bagi para pendidik di negeri kita.
Pendidikan seumur hidup atau belajar seumur hidup bukan berarti kita harus terus sekolah sepanjang hidup kita. Sekolah banyak diartikan oleh masyarakat sebagai tugas belajar yang terperangkap dalam sebuah “ruang” yang bernama kelas. Paradigma belajar seperti ini sangat harus segera kita rubah. Pengertian belajar bukan hanya berada dalam ruangan tapi belajar di semua tempat, semua situasi dan semua hal.

II. PERUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian konsep pendidikan seumur hidup?
2. Apa dasar pemikiran pendidikan seumur hidup?
3. Aspek apa saja yang ada pada pendidikan seumur hidup?
4. Apa implikasi konsep pendidikan seumur hidup?

III. PEMBAHASAN
A. Pengertian Konsep Pendidikan Seumur Hidup
Dalam GBHN dinyatakan bahwa “pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam lingkungan rumah tangga, sekolah dan masyarakat. Karena itu, pendidikan ialah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah”.
Hal ini berarti bahwa setiap manusia Indonesia diharapkan supaya selalu berkembang sepanjang hidup, dan di lain pihak masyarakatdan pemerintah diharapakan agar dapat menciptakan situasi yang menantang untuk belajar. Prinsip ini berarti, masa sekolah bukanlah satu-satunya masa bagi setiap orang untuk belajar, melainkan hanya sebagian dari waktu belajar yang akan berlangsung seumur hidup.
Konsep pendidikan seumur hidup merumuskan suatu asas bahwa pendidikan adalah suatu proses yang terus-menerus (kontinu) dari bayi sampai meninggal dunia. Konsep ini sesuai dengan konsep Islam seperti yang tercantum dalam hadits Nabi Muhammad SAW., yang menganjurkan belajar mulai dari buaian sampai ke liang lahat.

B. Dasar Pemikiran Pendidikan Seumur Hidup
Dasar pendidikan seumur hidup bertitik tolak atas keyakinan bahwa proses pendidikan dapat berlangsung selama manusia hidup, baik di dalam maupun di luar sekolah. (Hasbullah, Dasar-Dasar Pendidikan,(Jakarta: Raja Grafindo persada), hal.63-64 ).
Ada bermacam-macam dasar pemikiran yang menyatakan bahwa pendidikan seumur hidup sangat penting. Dasar pemikiran tersebut ditinjau dari beberapa segi, antara lain :
1. Dasar Ideologi
Konsep pendidikan seumur hidup ini pada mulanya dikemukakan oleh filosof dan pendidik Amerika yang sangat terkenal yaitu John Dewey, kemudian dipopulerkan oleh Paul Langrend melalui bukunya: An Introduction to Lifelong Education, dan dikembangkan oleh UNESCO (Badan Pendidikan PBB). Menurut John Dewey, pendidikan itu menyatu dengan hidup, oleh karena itu pendidikan terus berlangsung sepanjang hidup sehingga pendidikan itu tidak pernah berakhir.
Konsep pendidikan seumur hidup bagi umat Islam sudah ada, jauh sebelum orang-orang barat mengangkatnya. Islam sudah mengenal pendidikan seumur hidup, sebagai mana dinyatakan oleh hadits Nabi SAW yang berbunyi :
اطلب العلم من المهد الى اللحد
Artinya: Tuntutlah ilmu dari buaian sampai meninggal dunia.

Semua manusia dilahirkan ke dunia mempunyai hak yang sama, khususnya hak untuk mendapatkan pendidikan dan peningkatan pengetahuan serta keterampilannya. Pendidikan seumur hidup akan memungkinkan seseorang mengembangkan potensi-potensinya sesuai dengan kebutuhan hidupnya.
Bagi umat Islam nilai religi merupakan dasar utama dalam mendidik anak-anak. Dengan menanamkan nilai agama akan membantu terbentuknya sikap dan karakter yang positif hingga masa dewasa. Menuntut ilmu adalah wajib bagi seluruh umat islam, tiada batasan dan berlangsung seumur hidup.
2. Dasar Yuridis
Di Indonesia konsepsi pendidikan seumur hidup mulai disosialisasikan kepada masyarakat melalui kebijakan Negara yaitu: Tap MPR No. IV / MPR / 1970 jo. Tap No.IV/ MPR / 1978 Tentang GBHN yang menetapkan prinsip-prinsip pembangunan nasional, antara lain :
a. Pembangunan nasional dilaksanakan dalam rangka pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh rakyat Indonesia (arah pembangunan jangka panjang ).
b. Pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan di dalam keluarga (rumah tangga ), sekolah dan masyarakat. Karena itu pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat dan pemerintah. (BAB IV GBHN bagian pendidikan ).
Di dalam UU Nomor 20 tahun 2003, penegasan tentang pendidikan seumur hidup, dikemukakan dalam pasal 13 ayat (1) yang berbunyi:
"Jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, non formal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya".
C. Tujuan Pendidikan Seumur Hidup
Tujuan pendidikan seumur hidup adalah untuk mengembangkan potensi kepribadian manusia sesuai dengan kodrat dan hakekatnya, yakni seluruh aspek pembawaannya seoptimal mungkin. Dengan demikian secara potensial keseluruhan potensi manusia di isi kebutuhannya supaya berkembang secara wajar. Potensi-potensi itu tercakup dalam potensi jasmani dan rohani. Dengan mengingat proses pertumbuhan dan perkembangan kepribadian manusia bersifat hidup dan dinamis, maka pendidikan wajar berlangsung seumur hidup.


D. Pendidikan Seumur Hidup Dalam Berbagai Perspektif
Dasar-dasar pemikiran pendidikan seumur hidup dapat ditinjau dalam beberapa segi, antara lain:
1. Tinjauan ideologis
Setiap manusia hidup mempunyai hak asasi yang sama dalam hal pengembangan diri, untuk mendapatkan pendidikan seumur hidup untuk peningkatan pengetahuan dan ketrampilan hidup.
2. Tinjauan ekonomis
Pendidikan seumur hidup dalam tinjauan ekonomi memungkinkan seseorang untuk
a. Meningkatkan produktivitasnya
b. Memelihara dan mengembangkan sumber-sumber yang dimilikinya
c. Memungkinkan hidup dalam lingkunganyang sehat dan menyenangkan
d. Memiliki motivasi dalam mengasuh dan mendidik anak secara tepat
3. Tinjauan Sosiologis
Pendidikan seumur hidup yang dilakukan oleh orangtua merupakan solusi untuk memecahkan masalah pendidikan. Dengan orang tua bersekolah maka anak-anak mereka juga bersekolah.
4. Tinjauan Filosofis
Pendidikan seumur hidup secara filosofi akan memberikan dasar bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.
5. Tinjauan Teknologis
Semakin maju jaman semakin berkembang pula ilmu pengetahuan dan teknologinya. Dengan teknologi maka pendidikan seumur hidup akan semakin mudah. Begitu pula sebaliknya.
6. Tinjauan Psikologis dan Paedagogis
Pendidikan pada dasarnya dipandang sebagai pelayanan untuk membantu pengembangan personal sepanjang hidup yang disebut development. Konseptualisasi pendidikan seumur hidup merupakan alat untuk mengembangkan individu-individu yang akan belajar seumur hidup agar lebih bernilai bagi masyarakat.
Adapun kunci konsep pendidikan seumur hidup ada empat, antara lain :
1. Konsep pendidikan seumur hidup itu sendiri.
Sebagaimana suatu konsep, maka pendidikan seumur hidup diartikan sebagai tujuan atau ide formal untuk pengorganisasian dan penstrukturan pengalaman-pengalaman pendidikan.Pendidikan meliputi seluruh rentang usia dan ada basis institusi yang amat berbeda dengan basis yang mendasari sekolah konsensional. SebagaimanaRasalullah saw, bersabda:
اطلب العلم من المهد الى اللحد
“Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat”
2. Konsep belajar seumur hidup
Belajar seumur hidup adalah respon terhadap keinginan yang didasari untuk belajar dan angan angan. Istilah “belajar” merupakan kegiatan yang dikelola dari proses belajar mengajar yang terus menerus. Belajar seumur hidup diartikan bahwa seseorang dapat belajar dan berkewajiban mengajar agar ia dapat ilmu baru dari mengajarkan ilmunya. Ilmu dapat diperoleh dari tidak hanya dari sekolah namun dari orang-orang yang perpengalaman di bidang tertentu. Sebagaimana Firman Allah dalam, QS. Al Alaq 1- 5:

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmu lah yang Maha Pemurah, yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam, dan Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”.
3. Konsep pelajar seumur hidup.
Belajar seumur hidup diartikan bahwa orang- orang yang sadar tentang dirinya sebagai pelajar seumur hidup, melihat belajar sebagai cara yang logis untuk mengatasi problema. Pelajar seumur hidup diartikan bahwa saat tiap nafas yang ia tarik dan hembuskan padanya ada kewajiban pada peningkatan cara menghadapi dunia. Hal itu akan diperoleh hanya dengan penambahan ilmu beserta pengalaman kehidupan.
4. Kurikulum yang membantu pendidikan seumur hidup.
Dalam konteks ini,kurikulum didesain atas dasar prinsip pendidikan seumur hidup dan betul-betul telah menghasilkan pelajar seumur hidup yang secara berurutan melaksanakan belajar seumur hidup.Kurikulum yangDemikianmerupakan kurikulum praktis untuk mencapai tujuan pendidikan dan mengimplementasikan prinsip- prinsip pendidikan seumur hidup. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS. Ar rahman ayat : 1-4:

الرَّحْمَنُ (1) عَلَّمَ الْقُرْآنَ (2) خَلَقَ الْإِنْسَانَ (3) عَلَّمَهُ الْبَيَانَ (4)

Artinya :“(Tuhan) Yang Maha Pemurah, Yang telah mengajarkan Al Qur'an, Dia menciptakan manusia,dan mengajarnya pandai berbicara”.

Konsep pendidikan seumur hidup merubah pandangan terhadap pola pendidikan secara fundamental. Pendidikan tidak lagi berarti schooling melainkan jauh lebih luas, variatif dan lebih mendalam. Pendidikan tidak berhenti dengan berakhirnya masa pendidikan formal di sekolah, melainkan merupakan proses yang bersifat “on-going, self-creating, continous and discontinous until death”. Pandangan terhadap Pendidikan seperti itu menjadi landasan yang kuat bagi konsepsi kita tentang pendidikan sosial.

E. Implikasi Konsep Pendidikan Seumur Hidup Pada Program-program Pendidikan
Implikasi di sini diartikan sebagai akibat langsung atau konsekuensi dari suatu keputusan. Maksudnya adalah sesuatu yang merupakan tindaklanjut atau follow up suatu kebijakan atau keputusan tentang pelaksanaan pendidikan seumur hidup. Implikasi konsep pendidikan seumur hidup pada program- program pendidikan, sebagaimana yang dikemukakan oleh Ananda W. P. George dalam bukunya Toward Better Educational Management, dapat dikelompokkan dalam kategori berikut:
1. Pendidikan Baca Tulis Fungsional
Realisasi baca tulis fungsional, minimal memuat dua hal, yaitu:
a. Memberikan kecakapan membaca, menulis, menghitung (3M) yang fungsional bagi anak didik.
b. Menyediakan bahan-bahan bacaan yang diperlukan untuk mengembangkan lebih lanjut kecakapan telah dimilikinya.
2. Pendidikan Vokasional
Pendidikan vokasional adalah sebagai program pendidikan di luar sekolah bagi anak di luar batas usia sekolah, ataupun sebagai pendidikan formal dan non formal, sebab itu program pendidikan yang bersifat remedial agar para lulusan sekolah tersebut menjadi tenaga yang produktif menjadi sangat penting.
3. Pendidikan Profesional
Sebagai realisasi pendidikan seumur hidup, dalam kiat-kiat profesi telah tercipta Built in Mechanism yang memungkinkan golongan profesional terus mengikuti berbagai kemajuan dan perubahan menyangkut metodologi, perlengkapan, terminologi dan sikap profesionalnya. Sebab bagaimanapun apa yang berlaku bagi pekerja dan buruh, berlaku pula bagi professional, bahkan tantangan buat mereka lebih besar.

4. Pendidikan ke Arah Perubahan dan Pembangunan
Diakui bahwa di era globalisasi dan informasi yang ditandai dengan pesatnya perkembangan IPTEK, telah mempengaruhi berbagai dimensi kehidupan masyarakat, dengan cara masak yang serba menggunakan mekanik, sampai dengan cara menerobos angkasa luar. Kenyataan ini tentu saja konsekuensinya menurut pendidikan yang berlangsung secara kontinue (life long education). Pendidikan bagi anggota masyarakat dari berbagai golongan usia agar mereka mampu mengikuti perubahan sosial dan pembangunan juga merupakan konsekuensi penting dari azas pendidikan seumur hidup.
5. Pendidikan Kewarganegaraan dan Kedewasaan Politik
Di samping tuntutan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK), dalam kondisi sekarang dimana pola pikir masyarakat.Yang semakin maju dan kritis, baik rakyat biasa, maupun pemimpin pemerintahan di negara yang demokratis, diperlukan pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik bagi setiap warga negara. Pendidikan seumur hidup yang bersifat kontinue dalam koteks ini merupakan konsekuensinya.
6. Pendidikan Kultural dan Pengisian Waktu Senggang
Bagaimanapun bagi orang-orang terpelajar diharapkan mampu memahami dan menghargai nilai-nilai agama, sejarah, kesusastraan, filsafat hidup, seni, dan musik bangsanya sendiri. Pengetahuan tersebut dapat memperkaya hidupnya, terutama segi pengalaman yang mengingingkannya untuk mengisi waktu senggangnya dengan menyenangkan. Oleh karena itu, pendidikan cultural dan pengisian waktu senggang secara konstruktif akan merupakan bagian penting dari long life education.

Sementara itu implikasi konsep life long education ini pada sasaran pendidikan juga, diklasifikasikan dalam enam kategori yang meliputi:
• Para buruh dan petani
• Golongan remaja yang terganggu pendidikan sekolahnya
• Para pekerja yang berketerampilan
• Golongan teknisi dan professional
• Para pemimpin dalam masyarakat
• Golongan masyarakat yang sudah tua
Hal yang dikemukakan di atas hanyalah sebagian kecil dari implikasi konsep pendidikan seumur hidup pada program-program dan sasaran pendidikan, sebab bagaimanapun dalam kondisi sekarang adanya kebutuhan dan tekanan baru justru lebih kompleks.Gelombang perubahan politik, sosial, dan ilmu pengetahuan merambah hampir semua aspek kehidupan masyarakat. Pendidikan seumur hidup menekankan kerja sama antara keluarga dan sekolah dalam menciptakan pengalaman hidup menerima individualitas kebudayaan keluarga dan menempatkannya sebagai salah satu agen pendidikan dalam masyarakat.
Begitu juga berdasarkan uraian tersebut di atas, maka penerapan cara berpikir menurut asas pendidikan seumur hidup itu akan mengubah pandangan kita tentang status dan fungsi sekolah, dimana tugas utama pendidikan sekolah adalah mengajar anak didik tentang cara belajar, peranan guru terutama adalah sebagai motivator, stimulator dan petunjuk jalan anak didik dalam hal belajar, sekolah dalam pusat kegiatan belajar (learning cenntre) bagi masyarakat sekitarnya. Dengan demikian, dalam pandangan mengenai pendidikan seumur hidup, semua orang secara potensial merupakan anak didik.

IV. PENUTUP DAN KESIMPULAN
Pendidikan adalah proses pembentukan manusia seutuhnya mencakup kemampuan mental, fikir dan kepribadian atau berwatak bangsa. Pendidikan seumur hidup adalah sebuah sistem konsep-konsep pendidikan yang menerangkan keseluruhan peristiwa-peristiwa kegiatan belajar mengajar yang berlangsung dalam keseluruhan kehidupan manusia. Proses pendidikan seumur hidup berlangsung secara kontinu, dan tidak terbatas oleh waktu seperti pendidikan formal, proses belajar seumur hidup tidak hanya dilakukan seorang yang terpelajar tetapi semua lapisan masyarakat bisa melaksanakannya.
Dari pembahasan Konsep Pendidikan Seumur Hidup, Dasar Pemikiran Dan Implikasinya dapat kami simpulkan sebagai berikut :
1. Tujuan pendidikan seumur hidup adalah mengembangkan potensi kepribadian manusia sesuai dengan kodrat dan hakekatnya. Proses pertumbuhan dan perkembangan kepribadian manusia bersifat hidup dan dinamis.
2. Konsep pendidikan seumur hidup merumuskan suatu asas bahwa pendidikan adalah suatu proses yang terus menerus dari bayi sampai meninggal dunia.
3. Dasar pemikiran konsep pendidikan seumur hidup dapat ditinjau dari berbagai segi yaitu tinjauan ideologis, yuridis, ekonomis, sosiologis, politis, teknologis, psikologis dan pedagogis.
4. Implikasi bidang pendidikan meliputi : implikasi program pendidikan yang terdiri dari pendidikan baca tulis, pendidikan kejuruan, pendidikan profesional, pendidikan ke arah perubahan dan pengembangan, pendidikan kewarganegaraan dan kedewasaan politik, perubahan kultural dan pengisian waktu luang; implikasi pada sasaran pendidikan yang meliputi para petani, remaja putus sekolah, pekerja terampil, para teknisi dan golongan profesional, para pemimpin masyarakat dan para anggota masyarakat yang sudah tua.[ ]





DAFTAR PUSTAKA


Purwanto, M. Ngalim, Ilmu Pendidikan Teoretis dan Praktis. Bandung: Remaja Rosdakarya,2007
Ihsan, Fuad., Drs.H., Dasar-dasar Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta, 2013
Sabri, Alisuf, Drs.H.M., Ilmu Pendidikan. Jakarta: CV Pedoman Ilmu Jaya, 1999

Link Internet
http://teratakhijau3.blogspot.co.id/2013/01/konsep-pendidikan-seumur-hidup_1813.html https://bhumisriwijaya.wordpress.com/2013/05/19/pendidikan-seumur-hidup/

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisa Standar Isi Mata Pelajaran PAI Tingkat SMP dan MTs

THAHARAH, WUDHU DAN TAYAMUM