Postingan

Menampilkan postingan dari 2017

Ramadhan: Bulan Rekonsiliasi Nasional

Gambar
Bulan Ramadhan sebentar lagi akan datang. Umat Islam seluruh dunia telah bersiap untuk menyambut kedatangannya. Kedatangan Bulan Ramadhan selalu dinanti oleh umat Islam karena bulan ini adalah bulan suci yang memiliki banyak keistimewaan. Bulan Ramadhan setiap tahunnya selalu hadir memberikan angin rekonsiliasi antar umat Islam bahkan sesama umat manusia. Setelah 11 bulan manusia berjibaku dengan rutinitas duniawi dan bersitegang karenanya, maka Bulan Ramadhan merupakan waktu yang tepat untuk meninggalkan segala pertikaian dan memohon ampun atas kekhilafan selama 11 bulan sebelumnya. Apabila kita menengok kegaduhan di negeri ini, dalam 6 bulan terakhir ini bangsa kita benar-benar dibuat gaduh atas berbagai konflik horizontal yang disulut oleh perbedaan pandangan politik maupun agama di pilkada DKI khususnya. Satu dan yang lainnya mudah untuk saling bertikai, saling memaki, saling membenci bahkan saling melukai. Selain itu bangsa kita benar-benar diuji atas berbagai peristiwa yang me...

TRUE STORY: Laa Tahzan!! Klo Sudah Rejeki Tak Akan Kemana

Ini kisah nyata!! Bagi anak kelas 3 sma setiap jelang ujian nasional sudah menjadi rutinitas untuk ikut try out soal-soal ujian. Sepertinya kegiatan ini menjadi acara wajib jika mau lulus atau setidaknya mendapatkan hasil ujian yang baik. Di awal tahun 2000 saya juga terbawa arus karena sebagian besar atau mungkin semua teman sekelas ikut try out yang diselenggarakan oleh salah satu Bimbel di Kota Solo. Mungkin itu try out terbesar yang ada waktu itu dan ini adalah try out pertama kali yang saya ikuti, dan menjadi satu-satunya try out jelang ujian yang saya ikuti. Saya bukan siswa yang ikut bimbel, boro-boro ikut bimbel bayar SPP saja dapat subsidi pemerintah hahaha... Singkat cerita, hari pelaksanaan telah tiba, tak ada persiapan khusus yang saya lakukan. Dan tak ada gambaran sedikit pun seperti apa try out itu, maklum ini kan try out ujian nasional yang pertama dan terakhir yang saya ikuti sepanjang hidup saya, hehe. Saya hanya bermodal semangat dan optimisme untuk datang t...

True Story: Menggapai "Bulan", Perjuangan Jejaka Desa

Selepas lulus SMA, Joko tak lantas santai-santai menikmati status baru, yaitu pengangguran. Baginya “nganggur” adalah sebuah pantangan dan dia merasa malu jika menjadi pemuda nganggur di kampung sendiri. Selain malu, pastinya akan jadi omongan teman, saudara dan tetangga. Ujung-ujungnya orang tua yang kena imbasnya, begitu pikirnya. Sesegera mungkin harus cari kerja ini, tapi kerja apa? Cuma lulusan SMA, ijasah pastinya rendah nilai jualnya, Joko terus memutar otaknya. Paling-paling kerja jadi buruh tani atau buruh pabrik atau pegawai rendahan lainnya. Tapi... tak apalah, demi harga diri, dan semangat untuk mengurangi beban orang tua maka harus segera dapat kerjaan dimana pun itu adanya dan apapun profesinya. Joko semakin semangat, baginya kerja adalah tujuan utama untuk saat itu dan kuliah adalah cita-cita yang harus ditaruh dilaci lemari yang paling dalam, ini tak lain karena kemampuan ekonomi orang tuanya yang tidak memungkinkan. Joko yakin, kelak dia akan bisa me-recall cita-citany...

Cita-cita yang "absurd" itu ya Guru

Masih membekas dalam ingatan, waktu dulu kelas 6 Sekolah Dasar disaat mau menyelesaikan pendidikan dasar, aku dan murid lainnya ditanya ibu guru soal cita-cita. Beragam jawaban muncul dari mulut anak-anak polos itu. Tapi sebagian besar temanku menjawab ingin menjadi guru dan sebagian teman yang bercita-cita itu kini benar-benar terwujud. Waktu itu aku tak punya cita-cita seperti sebagian besar temanku itu, karena bagiku dulu seorang tentara adalah sosok yang menarik karena kegagahan, keberanian dan seragamnya yang terkesan berwibawa. Lalu berjalannya waktu saat tingkat MTs, dan MA malah tak terbesit punya hasrat bercita-cita mau jadi apa, ya mungkin masih sedikit terkagum dengan sosok tentara. Intinya tak ada pikiran kemana langkah hidup masa depan nanti, biarlah hidup berjalan seperti air sungai mengalir, kira-kira begitu. Hingga akhirnya selepas MA merantau ke Jakarta dan itupun seolah hanya keberuntungan karena waktu itu yang ada pikiran hanya kerja dan jangan jadi pengangguran d...

Menyoal Problematika Sarjana

Sore tadi selepas sholat Ashar ada obrolan ringan sesama jamaah di sudut mushola, memang kami terkadang suka mengobrol seperti ini. Selain aku ada tiga orang lagi yang ikut dalam obrolan sore ini, ketiga orang ini adalah teman sholat saban harinya di mushola dekat kantorku, kira-kira usia mereka di atas 50 tahun. Kami semua adalah seorang karyawan yang suka mikiran hakekat kehidupan. Obrolan pun tidak jelas arahnya kadang ngobrol soal kemajuan teknologi, kadang ngobrol soal kondisi anak muda sekarang, tentang nasib generasi mendatang, ngobrolin urusan negara, ngobrolin kelakukan birokrasi yang bertele-tele dan jlimet serta obrolan lain, yang pada intinya semua obrolan tentang hiruk pikuk kehidupan. Setidaknya ada pokok pembahasan yang menarik bagiku sore ini yaitu soal lapangan kerja yang makin sulit dicari. Seperti yang kita saksikan banyak sekali sarjana yang tiap tahun lulus dari universitasnya sedang kebingungan cari kerja bahkan dari universitas terkemuka. Dari universitas terk...

Refleksi Hari Pendidikan Nasional

Pagi tadi selepas subuh tak seperti biasanya aku menyempatkan baca buku. Buku yang menarik perhatianku untuk segera kubaca ada buku yang berjudul “Ilmu Pendidikan Islam” karya, Prof.Dr. Zakiah Daradjat. Ada beberapa uraian dari buku ini yang menarik yang perlu saya bagikan. Berikut ringkasan buku tersebut. Kata “Pendidikan” yang umum kita gunakan sekarang, dalam bahasa arabnya adalah “tarbiyah”, dengan kata kerja “rabba”. Tentu kata pendidikan berbeda dengan pengajaran, meskipun ada yang mempersepsikan sama. Kata “pengajaran” dalam bahasa arabnya adalah “ta’lim” dengan kata kerjanya “’allama”. Tak sedikit guru yang hanya mampu menjadi seorang pengajar bukan pendidik, maka tak heran jika oknum guru (pengajar) ini tak mampu merefleksikan makna pendidikan dalam kehidupan sehari-harinya. Akibatnya guru yang seharusnya “digugu lan ditiru”, didengar dan diikuti tidak berlaku bagi seorang pengajar ini. Maka jangan heran jika murid yang dihasilkan pun jauh dari tujuan pendidikan itu sendiri....

Quo Vadis Komite Sekolah?

Tidak sedikit dari kita menganggap bahwa tanggungjawab dalam mendidik seorang siswa adalah tanggung jawab penuh dari sekolah yang menjadi tempat belajar anak. Akibatnya orang tua yang punya anggapan seperti itu menyerahkan sepenuhnya proses pendidikan anak ke pihak sekolah dan acuh pada perkembangannya. Kemudian, jika anak tersebut tidak ada kemajuan dalam belajar, atau ada keterlambatan dan kegagalan dalam belajar maka pihak sekolah lah yang bertanggungjawab. Namun ironisnya jika ada keberhasilan dari anak tersebut, yang paling meng”aku” bangga adalah orang tuanya. Ini sebenarnya paradigma lama dari masyarakat kita tapi masih terus terkembang hingga kini, meskipun pemerintah telah mereformasi sistem pendidikan kita. Reformasi ini setidaknya dimulai dari tahun 2002 tentang adanya konsep komite sekolah yang tertuang dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional (Kemendiknas) No. 014/ U/ 2002 Tanggal 2 April 2002, keputusan ini sekaligus menghapus Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan...

Sekolah Islam Terpadu: Antara Cita-cita dan Realita

Pendidikan Islam kembali menggeliat dalam di awal tahun 2000-an, hal ini setidaknya ditandai dengan munculnya sekolah berbasis “Islam Terpadu”, ya label Islam Terlalu (IT) tumbuh pesat bak jamur di musim penghujan. Label IT tak hanya tersemat pada pendidikan tingkat SD, SMP dan SMA saja tapi kini juga menjalar ke tingkat Taman Kanak-kanak (TK) bahkan Play Group (PG). Lahirnya sekolah yang berlabel IT ini nyatanya menjadi primadona baru di tengah masyarakat kita, khususnya bagi orang tua yang jengah dengan buruknya tata kelola sekolah negeri dan madrasah. Meskipun sekolah berbasis IT ini menawarkan pendidikan dengan biaya yang mahal namun tak menyurutkan animo masyarakat untuk memasukkan anaknya ke dalamnya. Tentu harapan orang tua sekolah ini dapat menjadikan anaknya terbentuk menjadi pribadi yang mampu menguasai ilmu umum sekaligus ilmu keislaman. Besarnya animo masyarakat yang berbondong-bondong memasukkan anaknya ke sekolah yang berbasis Islam terpadu mungkin juga sebagai reaksi a...

Manusia Modern yang Teralienasi

Alienasi bisa diartikan suatu cara pengalaman hidup yang mana seorang mengalami dirinya sebagai sosok terasing. Alienasi adalah teori yang dikeluarkan oleh Karl Marx tentang munculnya sebuah keadaan di mana buruh atau proletar mendapatkan sebuah keadaan yang terasing dari kehidupanya. Ia percaya bahwa Alienasi adalah hasil dari eksploitasi Kapitalisme terhadap buruh dengan mengartikanya sebagai modal. Alienasi di era digital ini kini berubah wajah, tapi hakikatnya sama. Bukan lagi disebabkan kaum kapitalis tapi faktor teknologi. Manusia modern benar-benar mengalami keterasingan diri, meskipun hidup dalam keramaian. Penyakit manusia modern ini kini kian parah dengan hadirnya era smartphone tak terkecuali di negeri ini. Sebenarnya cikal bakal keterasingan sudah mulai nampak semenjak hadirnya internet ( cyber world ), rupanya kondisi ini kini kian kronis setelah smartphone hadir dan berhasil mencuri perhatian setiap individu mulai dari bayi hingga usia senja. Kini dengan mudahnya kita d...

RAPORT DAN TUJUAN PENDIDIKAN

Di minggu ini atau minggu depan sebagian orang tua yang mempunyai anak yang sedang menjalani pendidikan di tingkat SD harus datang ke sekolah untuk memenuhi undangan pihak sekolah dalam rangka penerimaan raport tengah semester, atau disebut raport bayangan. Pada tahap ini bagi orang tua dan guru (tenaga pendidik) merupakan waktu yang tepat dalam menjalin komunikasi dan diskusi terkait dengan perkembangan anak baik di sekolah maupun di rumah. Namun bagi sebagian orang tua mungkin kesempatan seperti ini kurang penting, atau bahkan tidak penting khususnya bagi kaum bapak, kemudian menyerahkan tugas ini kepada seorang istri. Ternyata anggapan seperti ini benar adanya, pagi tadi saat saya mendampingi istri dalam pengambilan raport anak saya yang pertama, tak banyak sosok bapak dari orang tua yang hadir, mungkin hanya 10% yang hadir lengkap pasangan suami-istri. Saya pikir sikap seperti ini tidaklah baik, karena tanggungjawab dalam mendidik anak adalah tanggungjawab bersama. Dulu bikin ana...

Jangan Tergesa-gesa

Sering kali kita tidak sabar untuk segera mengakhiri sesuatu yang menurut kita tidak baik, misalkan tidak sabar ketika dirundung musibah, tidak sabar ketika jatuh dalam kebangkrutan, tidak sabar ketika dalam kemiskinan, tidak sabar ketika ketika terlibat masalah atau tidak sabar ketika berdoa untuk suatu keinginan kepada Allah SWT dan meminta untuk segera mewujudkannya. Bukankah tergesa-gesa atau buru-buru itu berarti mengikuti langkah setan? “Sifat perlahan-lahan (sabar) berasal dari Allah. Sedangkan sifat ingin tergesa-gesa itu berasal dari setan.” (Al-Hadits). Ketika kita yakin bahwa setiap doa kita akan dikabulkan sama Allah SWT maka biarkanlah Allah yang mengatur kapan itu doa akan diijabah dan tidak usah kita meminta untuk disegerakan apalagi memaksanya. Tetap husnuzon kepada Allah SWT dan yakin bahwa apa yang kita terima setelah kita berdoa itu adalah yang terbaik yang diberikan oleh Allah, karena sesungguhnya apa yang menurut kita baik belum tentu baik menurut Allah SWT dan a...

Tak Semua Perubahan itu Baik

Terkadang terlintas dalam pikiran kita sesuatu yang membuat kita ingin mengakhiri rutinitas yang selalu sama tiap harinya, misal rutinitas dalam bekerja atau rutinitas lainnya. Pada kenyataannya memang kita acapkali mudah tergiur dengan sesuatu yang lain yang menurut kita tampak lebih menggairahkan dan menjanjikan, pepatah berbunyi “rumput tetangga lebih hijau”. Banyak teman kita yang sudah beralih profesi, beralih tempat kerja hanya karena bosan dan lelah dengan rutinitas yang sama, hanya karena alasan income yang lebih besar. Bahkan banyak pendapat para motivator bahwa kita harus berubah dan jangan terlena dengan zona nyaman (comfort zone), kemudian mereka menyarankan untuk pindah tempat kerja maupun pindah profesi. Hal ini mengingatkan aku pada beberapa motivator di perusahaan asuransi, perusahaan multilevel marketing atau sejenisnya yang pernah saya ikuti sesi ceramahnya, tak sedikit yang terpengaruh. Meskipun demikian masih saja ada orang yang nyaman dengan rutinitasnya, nyaman ...