Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2017

Quo Vadis Komite Sekolah?

Tidak sedikit dari kita menganggap bahwa tanggungjawab dalam mendidik seorang siswa adalah tanggung jawab penuh dari sekolah yang menjadi tempat belajar anak. Akibatnya orang tua yang punya anggapan seperti itu menyerahkan sepenuhnya proses pendidikan anak ke pihak sekolah dan acuh pada perkembangannya. Kemudian, jika anak tersebut tidak ada kemajuan dalam belajar, atau ada keterlambatan dan kegagalan dalam belajar maka pihak sekolah lah yang bertanggungjawab. Namun ironisnya jika ada keberhasilan dari anak tersebut, yang paling meng”aku” bangga adalah orang tuanya. Ini sebenarnya paradigma lama dari masyarakat kita tapi masih terus terkembang hingga kini, meskipun pemerintah telah mereformasi sistem pendidikan kita. Reformasi ini setidaknya dimulai dari tahun 2002 tentang adanya konsep komite sekolah yang tertuang dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional (Kemendiknas) No. 014/ U/ 2002 Tanggal 2 April 2002, keputusan ini sekaligus menghapus Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan...

Sekolah Islam Terpadu: Antara Cita-cita dan Realita

Pendidikan Islam kembali menggeliat dalam di awal tahun 2000-an, hal ini setidaknya ditandai dengan munculnya sekolah berbasis “Islam Terpadu”, ya label Islam Terlalu (IT) tumbuh pesat bak jamur di musim penghujan. Label IT tak hanya tersemat pada pendidikan tingkat SD, SMP dan SMA saja tapi kini juga menjalar ke tingkat Taman Kanak-kanak (TK) bahkan Play Group (PG). Lahirnya sekolah yang berlabel IT ini nyatanya menjadi primadona baru di tengah masyarakat kita, khususnya bagi orang tua yang jengah dengan buruknya tata kelola sekolah negeri dan madrasah. Meskipun sekolah berbasis IT ini menawarkan pendidikan dengan biaya yang mahal namun tak menyurutkan animo masyarakat untuk memasukkan anaknya ke dalamnya. Tentu harapan orang tua sekolah ini dapat menjadikan anaknya terbentuk menjadi pribadi yang mampu menguasai ilmu umum sekaligus ilmu keislaman. Besarnya animo masyarakat yang berbondong-bondong memasukkan anaknya ke sekolah yang berbasis Islam terpadu mungkin juga sebagai reaksi a...

Manusia Modern yang Teralienasi

Alienasi bisa diartikan suatu cara pengalaman hidup yang mana seorang mengalami dirinya sebagai sosok terasing. Alienasi adalah teori yang dikeluarkan oleh Karl Marx tentang munculnya sebuah keadaan di mana buruh atau proletar mendapatkan sebuah keadaan yang terasing dari kehidupanya. Ia percaya bahwa Alienasi adalah hasil dari eksploitasi Kapitalisme terhadap buruh dengan mengartikanya sebagai modal. Alienasi di era digital ini kini berubah wajah, tapi hakikatnya sama. Bukan lagi disebabkan kaum kapitalis tapi faktor teknologi. Manusia modern benar-benar mengalami keterasingan diri, meskipun hidup dalam keramaian. Penyakit manusia modern ini kini kian parah dengan hadirnya era smartphone tak terkecuali di negeri ini. Sebenarnya cikal bakal keterasingan sudah mulai nampak semenjak hadirnya internet ( cyber world ), rupanya kondisi ini kini kian kronis setelah smartphone hadir dan berhasil mencuri perhatian setiap individu mulai dari bayi hingga usia senja. Kini dengan mudahnya kita d...