Refleksi Hari Pendidikan Nasional
Pagi tadi selepas subuh tak seperti biasanya aku menyempatkan baca buku. Buku yang menarik perhatianku untuk segera kubaca ada buku yang berjudul “Ilmu Pendidikan Islam” karya, Prof.Dr. Zakiah Daradjat. Ada beberapa uraian dari buku ini yang menarik yang perlu saya bagikan. Berikut ringkasan buku tersebut.
Kata “Pendidikan” yang umum kita gunakan sekarang, dalam bahasa arabnya adalah “tarbiyah”, dengan kata kerja “rabba”. Tentu kata pendidikan berbeda dengan pengajaran, meskipun ada yang mempersepsikan sama. Kata “pengajaran” dalam bahasa arabnya adalah “ta’lim” dengan kata kerjanya “’allama”. Tak sedikit guru yang hanya mampu menjadi seorang pengajar bukan pendidik, maka tak heran jika oknum guru (pengajar) ini tak mampu merefleksikan makna pendidikan dalam kehidupan sehari-harinya. Akibatnya guru yang seharusnya “digugu lan ditiru”, didengar dan diikuti tidak berlaku bagi seorang pengajar ini. Maka jangan heran jika murid yang dihasilkan pun jauh dari tujuan pendidikan itu sendiri.
Di dalam Islam, tujuan pendidikan Islam itu berlangsung selama hidup, maka tujuan akhirnya terdapat pada waktu hidup di dunia ini telah berakhir pula. Tujuan umum yang berbentuk Insan Kamil dengan pola takwa dapat mengalami perubahan naik turun, bertambah dan berkurang dalam perjalanan hidup seseorang. Perasaan, lingkungan dan pengalaman dapat mempengaruhinya. Karena itulah pendidikan Islam itu berlaku selama hidup untuk menumbuhkan, memupuk, mengembangkan, memelihara dan mempertahankan tujuan pendidikan yang telah dicapai. Bahkan orang yang sudah takwa dalam bentuk Insan Kamil pun, masih perlu mendapatkan pendidikan dalam rangka pengembangan dan penyempurnaan, sekurang-kurangnya pemeliharaan supaya tidak luntur dan berkurang, meskipun pendidikan oleh diri sendiri dan bukan dalam pendidikan formal.
Siapa yang Bertanggungjawab Terhadap Pendidikan?
Salah besar jika tanggungjawab pendidikan hanya dibebankan kepada institusi pendidikan saja, tanggungjawab pendidikan adalah tanggungjawab bersama, setidaknya elemen berikut yang mempunyai kewajiban terhadap pendidikan seorang anak.
Orang Tua
Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga.
Pada umumnya pendidikan dalam rumah tangga itu bukan berpangkal tolak dari kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan mendidik, melainkan karena secara kodrati suasana dan strukturnya memberikan kemungkinan alami membangun situasi pendidikan. Situasi pendidikan itu terwujud berkat adanya pergaulan dan hubungan pengaruh mempengaruhi secara timbal balik antara orang tua dan anak.
Guru
Guru adalah pendidik professional, karenanya secara implisit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang terpikul di pundak para orang tua. Mereka ini tatkala menyerahkan anaknya ke sekolah, sekaligus berarti pelimpahan sebagian tanggung jawab pendidikan anaknya kepada guru. Hal itupun menunjukan pula bahwa orang tua tidak mungkin menyerahkan anaknya kepada sembarang guru/sekolah karena tidak sembarang orang dapat menjabat guru. Syarat untuk menjadi guru yaitu: takwa kepada Allah SWT, berilmu, sehat jasmani dan berkelakuan baik.
Masyarakat
Masyarakat turut serta memikul tanggung jawab pendidikan. Secara sederhana masyarakat dapat diartikan sebagai kumpulan individu dan kelompok yang diikat oleh kesatuan negara, kebudayaaan dan agama. Setiap masyarakat mempunyai cita-cita, peraturan-peraturan dan sistem kekuasaan tertentu.
Masyarakat besar pengaruhnya dalam memberi arah terhadap pendidikan anak, terutama para pemimpin masyarakat atau penguasa yang ada di dalamnya. Pemimpin masyarakat muslim tentu saja patuh menjalankan agamanya, baik dalam lingkungan keluarganya, anggota sepermainannya, kelompok kelasnya dan sekolahnya. Bila anak telah besar diharapkan menjadi anggota yang baik pula sebagai warga desa, warga kota dan warga negara.
Kira-kira itu beberapa ide pemikiran Prof Dr. Zakiah Daradjat yang dapat saya ambil hikmahnya, semoga kita dapat berkontribusi bagi perkembangan pendidikan Indonesia, karena sebagaimana yang diuraikan di atas pendidikan adalah tanggungjawab kita bersama.
Selamat Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2017
*) Muhammad Arifin
M2B: Membaca, Menulis dan Bermanfaat
Kata “Pendidikan” yang umum kita gunakan sekarang, dalam bahasa arabnya adalah “tarbiyah”, dengan kata kerja “rabba”. Tentu kata pendidikan berbeda dengan pengajaran, meskipun ada yang mempersepsikan sama. Kata “pengajaran” dalam bahasa arabnya adalah “ta’lim” dengan kata kerjanya “’allama”. Tak sedikit guru yang hanya mampu menjadi seorang pengajar bukan pendidik, maka tak heran jika oknum guru (pengajar) ini tak mampu merefleksikan makna pendidikan dalam kehidupan sehari-harinya. Akibatnya guru yang seharusnya “digugu lan ditiru”, didengar dan diikuti tidak berlaku bagi seorang pengajar ini. Maka jangan heran jika murid yang dihasilkan pun jauh dari tujuan pendidikan itu sendiri.
Di dalam Islam, tujuan pendidikan Islam itu berlangsung selama hidup, maka tujuan akhirnya terdapat pada waktu hidup di dunia ini telah berakhir pula. Tujuan umum yang berbentuk Insan Kamil dengan pola takwa dapat mengalami perubahan naik turun, bertambah dan berkurang dalam perjalanan hidup seseorang. Perasaan, lingkungan dan pengalaman dapat mempengaruhinya. Karena itulah pendidikan Islam itu berlaku selama hidup untuk menumbuhkan, memupuk, mengembangkan, memelihara dan mempertahankan tujuan pendidikan yang telah dicapai. Bahkan orang yang sudah takwa dalam bentuk Insan Kamil pun, masih perlu mendapatkan pendidikan dalam rangka pengembangan dan penyempurnaan, sekurang-kurangnya pemeliharaan supaya tidak luntur dan berkurang, meskipun pendidikan oleh diri sendiri dan bukan dalam pendidikan formal.
Siapa yang Bertanggungjawab Terhadap Pendidikan?
Salah besar jika tanggungjawab pendidikan hanya dibebankan kepada institusi pendidikan saja, tanggungjawab pendidikan adalah tanggungjawab bersama, setidaknya elemen berikut yang mempunyai kewajiban terhadap pendidikan seorang anak.
Orang Tua
Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga.
Pada umumnya pendidikan dalam rumah tangga itu bukan berpangkal tolak dari kesadaran dan pengertian yang lahir dari pengetahuan mendidik, melainkan karena secara kodrati suasana dan strukturnya memberikan kemungkinan alami membangun situasi pendidikan. Situasi pendidikan itu terwujud berkat adanya pergaulan dan hubungan pengaruh mempengaruhi secara timbal balik antara orang tua dan anak.
Guru
Guru adalah pendidik professional, karenanya secara implisit ia telah merelakan dirinya menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang terpikul di pundak para orang tua. Mereka ini tatkala menyerahkan anaknya ke sekolah, sekaligus berarti pelimpahan sebagian tanggung jawab pendidikan anaknya kepada guru. Hal itupun menunjukan pula bahwa orang tua tidak mungkin menyerahkan anaknya kepada sembarang guru/sekolah karena tidak sembarang orang dapat menjabat guru. Syarat untuk menjadi guru yaitu: takwa kepada Allah SWT, berilmu, sehat jasmani dan berkelakuan baik.
Masyarakat
Masyarakat turut serta memikul tanggung jawab pendidikan. Secara sederhana masyarakat dapat diartikan sebagai kumpulan individu dan kelompok yang diikat oleh kesatuan negara, kebudayaaan dan agama. Setiap masyarakat mempunyai cita-cita, peraturan-peraturan dan sistem kekuasaan tertentu.
Masyarakat besar pengaruhnya dalam memberi arah terhadap pendidikan anak, terutama para pemimpin masyarakat atau penguasa yang ada di dalamnya. Pemimpin masyarakat muslim tentu saja patuh menjalankan agamanya, baik dalam lingkungan keluarganya, anggota sepermainannya, kelompok kelasnya dan sekolahnya. Bila anak telah besar diharapkan menjadi anggota yang baik pula sebagai warga desa, warga kota dan warga negara.
Kira-kira itu beberapa ide pemikiran Prof Dr. Zakiah Daradjat yang dapat saya ambil hikmahnya, semoga kita dapat berkontribusi bagi perkembangan pendidikan Indonesia, karena sebagaimana yang diuraikan di atas pendidikan adalah tanggungjawab kita bersama.
Selamat Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2017
*) Muhammad Arifin
M2B: Membaca, Menulis dan Bermanfaat
Komentar
Posting Komentar