Menyoal Problematika Sarjana

Sore tadi selepas sholat Ashar ada obrolan ringan sesama jamaah di sudut mushola, memang kami terkadang suka mengobrol seperti ini. Selain aku ada tiga orang lagi yang ikut dalam obrolan sore ini, ketiga orang ini adalah teman sholat saban harinya di mushola dekat kantorku, kira-kira usia mereka di atas 50 tahun. Kami semua adalah seorang karyawan yang suka mikiran hakekat kehidupan. Obrolan pun tidak jelas arahnya kadang ngobrol soal kemajuan teknologi, kadang ngobrol soal kondisi anak muda sekarang, tentang nasib generasi mendatang, ngobrolin urusan negara, ngobrolin kelakukan birokrasi yang bertele-tele dan jlimet serta obrolan lain, yang pada intinya semua obrolan tentang hiruk pikuk kehidupan.

Setidaknya ada pokok pembahasan yang menarik bagiku sore ini yaitu soal lapangan kerja yang makin sulit dicari. Seperti yang kita saksikan banyak sekali sarjana yang tiap tahun lulus dari universitasnya sedang kebingungan cari kerja bahkan dari universitas terkemuka. Dari universitas terkemuka yang notabene punya nilai jual tinggi saja bingung cari pekerjaan apalagi yang dari universitas abal-abal? Yang sarjana saja sulit dapat kerja apalagi yang non sarjana? Kira-kira begitu analoginya. Ini fakta di lapangan yang tidak bisa kita bantah. Saking sulitnya akhirnya banyak cara-cara kotor dan keji mereka lakukan supaya mendapatkan pekerjaan yang diinginkan, yang pada akhirnya suap menyuap menjadi perilaku yang wajar di tengah masyarakat kita.

Di saat lapangan kerja yang makin menyempit dan sulit, bangsa kita dibanjiri tenaga kerja asing yang tentunya mempunyai kemampuan yang lebih unggul dari kita, faktanya lebih banyak begitu. Mereka lebih siap minimal soal kemampuan bahasa asing dan skill basic lainnya. Kemampuan bahasa ini adalah kebutuhan yang sangat penting dalam menunjang komunikasi dalam dunia kerja, dan ironisnya ini menjadi salah satu kelemahan angkatan tenaga kerja kita dibanding negara pesaing seperti Malaysia, India, Philipina, dan sebagainya. Tapi kebingungan para sarjana dalam mencari kerja seharusnya bisa diminimalisir jika paradigma menuntut ilmu itu direkonstruksi, kalau bahasa Pak Jokowi perlu dilakukan revolusi mental. Yang perlu revolusi mental itu tidak hanya si penuntut ilmu tapi juga orang tua dan masyarakatnya.

Pada intinya sebagian besar masyarakat kita masih beranggapan bahwa tujuan sekolah tinggi itu supaya bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. Sebenarnya tidak salah pandangan ini, tapi tak sepenuhnya benar. Jika hanya mau mencari pekerjaan dan hidup bergelimang harta, tak usah lah sekolah tinggi-tinggi? Dengan berdagang bisa diwujudkan, tak perlu diberikan contoh, bukti di lapangan sudah banyak sekali.

Perlu dipahami juga bahwa akhir dari pendidikan itu bukan soal materi saja, jika padangan dunia kita begitu maka tak ubahnya kita ini punya pandangan materialisme seperti para ateis yang tak paham agama. Lalu bangga dengan jargon, time is money, helloooo....plis deh. Hidup ini tak melulu soal urusan dunia tapi juga soal kehidupan akhirat.

Tujuan pendidikan itu bukan soal materi semata tapi soal bagaimana kita bisa menjadi manusia seutuhnya, manusia yang mandiri dan berakhlakul karimah yang dapat mengemban tugas sebagai khalifah di bumi sesuai dengan aturan Allah SWT.

Nah menarik, tujuan pendidikan itu salah satunya supaya kita mandiri. Itu artinya jika dikaitkan dengan urusan pekerjaan maka tak perlu kita menggantungkan diri kepada orang lain, ketika sudah jadi sarjana tapi perlu sibuk mencari pekerjaan. Tapi bagaimana kita bisa menciptakan lapangan pekerjaan. Maka tak heran saat ini banyak sekolah-sekolah yang mengajarkan pendidikan entrepreneurship (kewirausahaan). Ini yang perlu kita dukung. Lalu kita sebagai orang tua juga harus mengajarkan kepada anak kita bahwa pendidikan tinggi bukan semata supaya mendapatkan kerja tapi ada tujuan yang jauh lebih penting dari itu.

28 April 2017
*) Muhammad Arifin
M2B : Membaca, Menulis dan Bermanfaat

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisa Standar Isi Mata Pelajaran PAI Tingkat SMP dan MTs

KONSEP PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP, DASAR PEMIKIRAN DAN IMPLIKASINYA

THAHARAH, WUDHU DAN TAYAMUM