Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2017

Ramadhan: Bulan Rekonsiliasi Nasional

Gambar
Bulan Ramadhan sebentar lagi akan datang. Umat Islam seluruh dunia telah bersiap untuk menyambut kedatangannya. Kedatangan Bulan Ramadhan selalu dinanti oleh umat Islam karena bulan ini adalah bulan suci yang memiliki banyak keistimewaan. Bulan Ramadhan setiap tahunnya selalu hadir memberikan angin rekonsiliasi antar umat Islam bahkan sesama umat manusia. Setelah 11 bulan manusia berjibaku dengan rutinitas duniawi dan bersitegang karenanya, maka Bulan Ramadhan merupakan waktu yang tepat untuk meninggalkan segala pertikaian dan memohon ampun atas kekhilafan selama 11 bulan sebelumnya. Apabila kita menengok kegaduhan di negeri ini, dalam 6 bulan terakhir ini bangsa kita benar-benar dibuat gaduh atas berbagai konflik horizontal yang disulut oleh perbedaan pandangan politik maupun agama di pilkada DKI khususnya. Satu dan yang lainnya mudah untuk saling bertikai, saling memaki, saling membenci bahkan saling melukai. Selain itu bangsa kita benar-benar diuji atas berbagai peristiwa yang me...

TRUE STORY: Laa Tahzan!! Klo Sudah Rejeki Tak Akan Kemana

Ini kisah nyata!! Bagi anak kelas 3 sma setiap jelang ujian nasional sudah menjadi rutinitas untuk ikut try out soal-soal ujian. Sepertinya kegiatan ini menjadi acara wajib jika mau lulus atau setidaknya mendapatkan hasil ujian yang baik. Di awal tahun 2000 saya juga terbawa arus karena sebagian besar atau mungkin semua teman sekelas ikut try out yang diselenggarakan oleh salah satu Bimbel di Kota Solo. Mungkin itu try out terbesar yang ada waktu itu dan ini adalah try out pertama kali yang saya ikuti, dan menjadi satu-satunya try out jelang ujian yang saya ikuti. Saya bukan siswa yang ikut bimbel, boro-boro ikut bimbel bayar SPP saja dapat subsidi pemerintah hahaha... Singkat cerita, hari pelaksanaan telah tiba, tak ada persiapan khusus yang saya lakukan. Dan tak ada gambaran sedikit pun seperti apa try out itu, maklum ini kan try out ujian nasional yang pertama dan terakhir yang saya ikuti sepanjang hidup saya, hehe. Saya hanya bermodal semangat dan optimisme untuk datang t...

True Story: Menggapai "Bulan", Perjuangan Jejaka Desa

Selepas lulus SMA, Joko tak lantas santai-santai menikmati status baru, yaitu pengangguran. Baginya “nganggur” adalah sebuah pantangan dan dia merasa malu jika menjadi pemuda nganggur di kampung sendiri. Selain malu, pastinya akan jadi omongan teman, saudara dan tetangga. Ujung-ujungnya orang tua yang kena imbasnya, begitu pikirnya. Sesegera mungkin harus cari kerja ini, tapi kerja apa? Cuma lulusan SMA, ijasah pastinya rendah nilai jualnya, Joko terus memutar otaknya. Paling-paling kerja jadi buruh tani atau buruh pabrik atau pegawai rendahan lainnya. Tapi... tak apalah, demi harga diri, dan semangat untuk mengurangi beban orang tua maka harus segera dapat kerjaan dimana pun itu adanya dan apapun profesinya. Joko semakin semangat, baginya kerja adalah tujuan utama untuk saat itu dan kuliah adalah cita-cita yang harus ditaruh dilaci lemari yang paling dalam, ini tak lain karena kemampuan ekonomi orang tuanya yang tidak memungkinkan. Joko yakin, kelak dia akan bisa me-recall cita-citany...

Cita-cita yang "absurd" itu ya Guru

Masih membekas dalam ingatan, waktu dulu kelas 6 Sekolah Dasar disaat mau menyelesaikan pendidikan dasar, aku dan murid lainnya ditanya ibu guru soal cita-cita. Beragam jawaban muncul dari mulut anak-anak polos itu. Tapi sebagian besar temanku menjawab ingin menjadi guru dan sebagian teman yang bercita-cita itu kini benar-benar terwujud. Waktu itu aku tak punya cita-cita seperti sebagian besar temanku itu, karena bagiku dulu seorang tentara adalah sosok yang menarik karena kegagahan, keberanian dan seragamnya yang terkesan berwibawa. Lalu berjalannya waktu saat tingkat MTs, dan MA malah tak terbesit punya hasrat bercita-cita mau jadi apa, ya mungkin masih sedikit terkagum dengan sosok tentara. Intinya tak ada pikiran kemana langkah hidup masa depan nanti, biarlah hidup berjalan seperti air sungai mengalir, kira-kira begitu. Hingga akhirnya selepas MA merantau ke Jakarta dan itupun seolah hanya keberuntungan karena waktu itu yang ada pikiran hanya kerja dan jangan jadi pengangguran d...

Menyoal Problematika Sarjana

Sore tadi selepas sholat Ashar ada obrolan ringan sesama jamaah di sudut mushola, memang kami terkadang suka mengobrol seperti ini. Selain aku ada tiga orang lagi yang ikut dalam obrolan sore ini, ketiga orang ini adalah teman sholat saban harinya di mushola dekat kantorku, kira-kira usia mereka di atas 50 tahun. Kami semua adalah seorang karyawan yang suka mikiran hakekat kehidupan. Obrolan pun tidak jelas arahnya kadang ngobrol soal kemajuan teknologi, kadang ngobrol soal kondisi anak muda sekarang, tentang nasib generasi mendatang, ngobrolin urusan negara, ngobrolin kelakukan birokrasi yang bertele-tele dan jlimet serta obrolan lain, yang pada intinya semua obrolan tentang hiruk pikuk kehidupan. Setidaknya ada pokok pembahasan yang menarik bagiku sore ini yaitu soal lapangan kerja yang makin sulit dicari. Seperti yang kita saksikan banyak sekali sarjana yang tiap tahun lulus dari universitasnya sedang kebingungan cari kerja bahkan dari universitas terkemuka. Dari universitas terk...

Refleksi Hari Pendidikan Nasional

Pagi tadi selepas subuh tak seperti biasanya aku menyempatkan baca buku. Buku yang menarik perhatianku untuk segera kubaca ada buku yang berjudul “Ilmu Pendidikan Islam” karya, Prof.Dr. Zakiah Daradjat. Ada beberapa uraian dari buku ini yang menarik yang perlu saya bagikan. Berikut ringkasan buku tersebut. Kata “Pendidikan” yang umum kita gunakan sekarang, dalam bahasa arabnya adalah “tarbiyah”, dengan kata kerja “rabba”. Tentu kata pendidikan berbeda dengan pengajaran, meskipun ada yang mempersepsikan sama. Kata “pengajaran” dalam bahasa arabnya adalah “ta’lim” dengan kata kerjanya “’allama”. Tak sedikit guru yang hanya mampu menjadi seorang pengajar bukan pendidik, maka tak heran jika oknum guru (pengajar) ini tak mampu merefleksikan makna pendidikan dalam kehidupan sehari-harinya. Akibatnya guru yang seharusnya “digugu lan ditiru”, didengar dan diikuti tidak berlaku bagi seorang pengajar ini. Maka jangan heran jika murid yang dihasilkan pun jauh dari tujuan pendidikan itu sendiri....