Ramadhan: Bulan Rekonsiliasi Nasional
Bulan Ramadhan sebentar lagi akan datang. Umat Islam seluruh dunia telah bersiap untuk menyambut kedatangannya. Kedatangan Bulan Ramadhan selalu dinanti oleh umat Islam karena bulan ini adalah bulan suci yang memiliki banyak keistimewaan. Bulan Ramadhan setiap tahunnya selalu hadir memberikan angin rekonsiliasi antar umat Islam bahkan sesama umat manusia. Setelah 11 bulan manusia berjibaku dengan rutinitas duniawi dan bersitegang karenanya, maka Bulan Ramadhan merupakan waktu yang tepat untuk meninggalkan segala pertikaian dan memohon ampun atas kekhilafan selama 11 bulan sebelumnya.
Apabila kita menengok kegaduhan di negeri ini, dalam 6 bulan terakhir ini bangsa kita benar-benar dibuat gaduh atas berbagai konflik horizontal yang disulut oleh perbedaan pandangan politik maupun agama di pilkada DKI khususnya. Satu dan yang lainnya mudah untuk saling bertikai, saling memaki, saling membenci bahkan saling melukai. Selain itu bangsa kita benar-benar diuji atas berbagai peristiwa yang merongrong kedaulatan dan kebhinekaan yang selama ini kita jaga dan lestarikan sedemikian rupa. Jangan sampai hal itu rusak hanya karena perbedaan pandangan dan sentimen agama di antara kita. Mari kita rajut kembali kebersamaan ini dalam bingkai keragaman dan dapat kita mulai dari hadirnya Bulan Suci Ramadhan yang sebentar lagi menghampiri kita. Umat Islam sebagai kelompok mayoritas harus bisa memberikan teladan bagi rakyat Indonesia bahwa kedamaian itu dapat dirajut kembali, dapat dipupuk kembali.
Bulan suci Ramadhan adalah bulan yang paling tepat untuk melebur dosa karena bulan ini adalah bulan yang diberikan Allah SWT kepada manusia sebagai momentum untuk bertaubat dan beramal serta beribadah sebanyak-banyaknya. Dalam hadits Nabi disebutkan, “Awal bulan Ramadan adalah Rahmat, pertengahannya Maghfirah, dan akhirnya ‘Itqun Minan Nar (pembebasan dari api neraka).” (HR. Abu Hurairah).
Karena sesuai hadits Nabi SAW tersebut bahwa 10 hari pertama adalah hari-hari diturunkannya rahmat Allah SWT kepada siapa saja yang menjalankan ibadah puasa. Karena 10 hari pertama ini adalah masa adaptasi yaitu masa penyesuaian dari menahan lapar dan haus serta adaptasi menahan amarah dan hawa nafsu, hal ini membutuhkan kesabaran yang luar biasa.
Kemudian di 10 hari kedua adalah dibukanya pintu maghfirah atau ampunan atas segala dosa. Karena itu pada momen ini kita diharapkan memanjatkan doa dan zikir sebanyak-banyaknya untuk memohon ampun kepada Allah SWT atas segala kekhilafan dan dosa yang telah kita lakukan di dunia dengan penuh ikhlas dan pengharapan yang sungguh-sungguh.
Lalu Ramadhan akan ditutup pada 10 hari terakhir dengan dijauhkannya dari siksa api neraka. Pada 10 hari terakhir ini Rasulullah justru malah mengencangkan ikat pinggang, memaksimalkan ibadah dengan menghidupkan malamnya dengan i’tikaf. Kita dianjurkan untuk sejenak meninggalkan kesibukan duniawi dan dituntut untuk memenuhi waktu pada 10 hari terakhir dengan beribadah sebanyak-banyaknya dan menghidupkan malamnya dengan beribadah kepada-Nya baik dengan membaca Al-Qur’an, sholat malam maupun zikir kepada Allah SWT. Pada 3 bagian terakhir di Bulan Ramadhan ini diyakini akan hadir malam lailatul qadar, yaitu malam yang nilainya lebih baik dari 1.000 bulan.
Jika seorang hamba dapat menghidupkan 10 hari terakhir, maka dia akan mendapat kesempatan yang lebih besar dalam mendapatkan keutamaan malam lailatul qadar. Itu artinya siapa saja yang beribadah pada malam lailatul qadar maka dia akan mendapatkan keutamaannya yaitu dia berarti beribadah selama 1.000 bulan atau 83 tahun. Inilah nilai keistimewaan yang dimiliki oleh umat Nabi Muhammad SAW dibandingkan dengan umat sebelumnya. Kita harus bersyukur atas keistimewaan ini, rasa kebersyukuran itu seharusnya dapat diimplementasikan dengan beribadah yang sungguh-sungguh sepanjang waktu selama Bulan Suci Ramadhan ini.
Dengan demikian, atas kesadaran diri adanya keistimewaan Bulan Ramadhan maka sudah semestinya umat Islam yang bertikai baik pertikaian sesama umat Islam maupun dengan umat lainnya untuk segera diakhiri. Tentu hal ini dapat terwujud jika satu sama lain harus saling melepaskan ego-nya, melepaskan atribut kelompoknya dan saling memaafkan serta saling mendoakan demi perbaikan diri, kesucian hati guna terwujudnya keharmonisan dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Karena jika pertikaian dan permusuhan belum sirna dalam sanubari seorang muslim maka besar kemungkinan dia tidak akan dapat merengkuh kenikmatan beribadah, keistimewaan dan kesucian bulan yang dinanti-nantikan jutaan umat Islam di dunia. Dengan begitu, bisa dimaknai dia telah menyia-nyiakan nikmat dan rahmat yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya. Karena kesucian Bulan Ramadhan telah dinodai oleh perasaan benci dan amarah yang terus menyala.
Presiden kita sendiri yaitu Bapak Ir. Joko Widodo dalam forum Konferensi Tingkat Tinggi Arab Islam Amerika di Arab Saudi beberapa hari lalu menyampaikan pesan yang salah satunya adalah mengajak kepada segenap umat Islam untuk berani menjadi “part of solution” dan bukan “part of problem” dari segenap masalah umat Islam demi terwujudkan perdamaian dunia. Dan dalam konteks ke-Indonesiaan saya kira pernyataan tersebut sangat relevan dengan kondisi bangsa ini, bahwa ajakan tersebut sudah seharusnya dapat ditangkap dan dimaknai bahwa kita harus punya andil dalam menciptakan kerukunan dan kedamaian negeri ini bukan malah menjadi penghalang apalagi menjadi penambah masalah dari segala masalah yang tengah kita hadapi bersama. Wallahu A’lam Bisshawab.[]

Komentar
Posting Komentar