Ajakan Kepada Kebaikan dan Kepedulian Sosial
Latar Belakang
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. QS. Ali Imran [3] : 104. Ayat di atas cukup jelas menegaskan bahwa kita dianjurkan dan diawajibkan untuk beramar makruf nahi munkar di antara kita. Manusia sebagai makhluk sosial mempunyai kebutuhan untuk saling berinteraksi, saling tolong menolong dan saling menasehati antar sesama makhluk sosial. Dalam Islam kita tidak hanya diwajibkan untuk menjaga hubungan dengan Tuhan (vertical) tetapi juga diwajibkan untuk menjaga hubungan antar sesama (horizontal).
Karena itu ukuran keshalehan dan keimanan seseorang tidak hanya diukur dari seberapa baik hubungan dia dengan Tuhannya, atau seberapa rajin ibadahnya (kesalehan individu) tetapi keimanan seseorang juga harus diukur dari seberapa baik hubungan dia dengan sesama, dengan tetangga dan masyarakat (kesalehan sosial). Sebab itulah, kenapa tujuan utama Rasulullah SAW diutus ke bumi ini untuk menyempurnakan akhlak manusia. Dalam makalah ini kami akan memaparkan hadits-hadits yang terkait erat dengan amar ma’ruf nahi munkar dan kepedualian sosial.
Hadits-hadits Amar Ma’ruf Nahi Munkar
1. Hadits Pertama: Kewajiban Amar Ma’ruf Nahi Munkar
عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ
[رواه مسلم]
Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.
(HR Muslim)
2. Hadits Kedua: Ajakan Kepada Yang Ma’ruf Dan Menjauhi dari Yang Mungkar
عن حذ يفة رضي الله عن النبي صل الله عليه وسلم : والدى نفس بيده لتا مرن با لمعروف و لتنهون عن المنكر او ليوشكن الله ان يبعث عليكم عقا با منه ثم تد عونه فلا يستخا ب لكم
( رواه الترمذي. وقل: حديش حسن (
Artinya :
“ Huzaifah RA berkata bahwa Nabi SAW. Bersabda, “ Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, kamu harus menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, atau kalau tidak, pasti kalau tidak Allah akan menurunkan siksa kepada kamu, kemudian kamu berdoa, maka tidak diterima doa kamu”
( H.R. At-Tarmizi, dan menurutnya hadis ini hasan)
Bahwa umat Islam diperintahkan untuk menjaga saudara-saudaranya sesama manusia, khususnya umat Islam, untuk berbuat kebaikan yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala kesesatan yang dilarang-Nya. Amar ma’ruf nahi mungkar itu sangat penting dalam ajaran Islam. Mereka yang melakukan akan dapat kemuliaan dan kebahagiaan. Kebahagiaan dan keberuntungan bukan saja milik mereka yang melakukan amal ma’ruf nahi mungkar, tetapi bagi mereka yang diajak apabila menuruti ajakan tersebut, manusia terkadang lupa diri, tidak ingat tujuan hidup dan kehendak kemana setelah hidup. Akibatnya, ia berbuat semena-mena tanpa kendali, tidak dapat membedakan mana perbuatan yang pantas dilakukan dan harus dilakukan dan mana perbuatan yang harus dihindari. keadaan seperti ini harus dihindari atau dikurangi bila ada segolongan orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Maka sesungguhnya mereka telah menolong saudaranya yang tengah lalai tersebut
3. Hadits Ketiga: Keutamaan Mengajak Kepada Kebaikan
عَنْ أًبى هُرَيْرَةَ رَضيَ اللهُ عَنْهُ قَال: قاَلَ رَسُوْلُ الله ص.م :مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا. (رواه مسلم ومالك وأبو داود والترمذى)
Artinya: Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah saw. Bersabda, “ Barang siapa yang mengajak kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa dikurangi dari mereka sedikit pun dan barang siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka baginya dosa sebagaimana dosanya orang yang mengikutinya tanpa dikurangi dari mereka sedikitpun.”(HR. Muslim, Malik, Abu Dawud dan Tirmidzi)
Hadits di atas menjelaskan bahwa orang yang mengajak kepada kebaikan akan mendapat pahala sebesar pahala orang yang mengerjakan ajaknya tanpa dikurangi sedikit pun. Begitu pula orang yang mengajak kepada kesesatan akan mendapat dosa besar sebesar dosa orang yang mengerjakan ajakanya tanpa dikurangi sedikit pun. Tidak diragukan lagi bahwa hadits tersebut merupakan kabar gembira bagi mereka yang suka mengajak orang lain untuk mengerjakan kebaikan, Allah SWT memberikan penghargaan tinggi bagi mereka yang suka mengajak kepada kebaikan tentu saja bila ajakan itu didasarkan atas niat yang ikhlas, bukan untuk mencari materi dan keuntungan dunia.
Namun tidaklah demikian, tidaklah bijaksana jika seorang muslim hanya mengharapkan pahala dari melakulan amar ma’ruf dan nahi mungkar, sedangkan dia sendiri lupa untuk mengajak dirinya agar melaksanakan apa-apa yang ia ajarkan kepada orang lain, bagainanapun orang tersebut tidak lepas dari siksa Allah SWT, padahal di dalam Al-Quran telah dijelaskan sebagaimana dalam Q.S. Ash-Shaff [61] : 2-3 .Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
Dengan demikian, sangatlah jelas bahwa mereka yang hanya dapat memberikan nasihat melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar kepada orang lain, tetapi dirinya lalai, dia tidak akan mendapat pahala, tapi murka Allah SWT. Dan diantara penyebab kesuksesan dakwah Nabi SAW, dalam waktu yang singkat sehingga mampu mengubah bangsa Arab yang terkenal jahiliyah dari segi akhlaknya dan keras perangainya, adalah sikap beliau yang tidak banyak bicara, tetapi juga melaksanakan segala sesuatu yang beliau ucapkan sebelum orang lain melakukanya. Beliau memberikan teladan dalam melaksanakan dan membuktikan apa yang diucapkanya.
Hadits-hadits Tentang Kepedulian Sosial
Hadits Pertama: Memperhatikan Kesulitan Orang lain
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَفَسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَ نَفَّسَ اللهُ عَنْ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِى الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَاللهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَاكَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيْهِ. (أخرجه مسلم)
Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda, "Barangsiapa melepaskan kesusahan hidup seorang mukmin di dunia, niscaya Allah akan melepaskan kesusahan di hari kiamat darinya. Barangsiapa memudahkan urusan (mukmin) yang sulit, niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan di akhirat. Allah akan senantiasa menolong seorang hamba, selama hamba itu senantiasa menolong saudaranya." (H.R. Muslim).
Melepaskan kesusahan orang lain sangat luas maknanya, tergantung pada kesusahan yang sedang diderita oleh saudaranya seiman tersebut. Jika saudaranya termasuk orang miskin, sedangkan ia termasuk orang yang berkecukupan atau kaya, ia harus berusaha menolongnya dengan cara memberikan pekerjaan atau memberikan bantuan sesuai kemampuannya, jika saudaranya sakit, ia berusaha menolongnya, antara lain dengan membantu memanggilkan dokter atau memberi bantuan uang ala kadarnya guna meringankan biaya pengobatannya. Jika saudaranya dililit utang ia berusaha untuk mencarikan jalan keluar, baik dengan memberikan bantuan agar utangnnya cepat dilunasi, maupun sekedar memberikan arahan-arahan yang akan membantu saudaranya dalam mengatasi utangnya tersebut dan lain-lain.
Orang muslim yang membantu meringankan atau melonggarkan kesusahan saudaranya seiman berarti telah menolong hamba Allah SWT. Yang sangat disukai oleh-Nya dan Allah SWT pun akan memberikan pertolongannya serta menyelamatkannnya dari berbagai kesusahan, baik di dunia maupun di akhirat.
Sebagaimana firman-Nya. Artinya : Jika kamu menolong (agama) Allah , niscaya Allah pun akan menolong kamu semua.. Begitu pula orang yang membantu kaum muslimin agar terlepas dari berbagai cobaan dan bahaya, ia akan mendapatkan pahala yang lebih besar dari Allah SWT dan Allah SWT pun akan melepaskannya dari berbagai kesusahan yang akan dihadapinya, baik di dunia maupn di akhira
Hadits Kedua: Meringankan Beban dan Penderitaan Orang Lain
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اَلْمُسْلِمُ اَخُوالْمُسْلِمِ لَا يُظْلَمُهُ وَلَا يُسْلَمُهُ، مَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيْهِ، كَانَ اللهُ فِى حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ.
(رواه البخارى ومسلم وأبوداود والنسائى والترميذى وقال: حسن صحيح)
Artinya : Diriwayatkan dari Ibn ‘Umar RA, Rasulullah SAW bersabda : “Seorang muslim adalah saudara dengan muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, dan tidak boleh membiarkan saudaranya teraniaya. Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya, Allah akan membantu kebutuhannya. Barangsiapa melapangkan kesulitan seorang muslim, Allah akan melapangkan baginya kesulitannya pada hari kiamat. Dan barangsiapa menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutupi aib nya pada hari kiamat.” (HR.Muslim).
Dalam Islam antara seorang muslim terhadap muslim lain adalah saudara dan tentunya ada salah satu kewajiban yang harus dipenuhi oleh seorang muslim terhadap saudaranya yaitu tidak boleh membuat saudaranya kesusahan, sengsara, kewajiban untuk mempermudah kepentigan (hajat atau kebutuhan saudaranya) dan kita sebagai seorang muslim harus memberi rasa aman terhadap saudara muslim yang lain. Maka dari itu, Allah SWT akan memberikan balasan terhadap seorang muslim yang memenuhi kewajiban antar sesama muslim tersebut pada hari kiamat.
DAFTAR PUSTAKA
1. Kitab Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi
2. Kitab Bulughul Maram Min Adillatil Ahkaam karya Al-Hafidz Imam Ibnu Hajar Al-Asqalany
3. Internet, link : http://makalahtugaspai.blogspot.co.id/2015/01/makalah-kepedulian-sosial.html
4. Internet, link : http://dikasudendi1015.blogspot.co.id/2015/11/hadis-ajakan-kepada-kebaikan.html
5. Internet, link : http://robisevilla.blogspot.co.id/2013/03/ajakan-kepada-yang-maruf-dan-menjahui.htm
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. QS. Ali Imran [3] : 104. Ayat di atas cukup jelas menegaskan bahwa kita dianjurkan dan diawajibkan untuk beramar makruf nahi munkar di antara kita. Manusia sebagai makhluk sosial mempunyai kebutuhan untuk saling berinteraksi, saling tolong menolong dan saling menasehati antar sesama makhluk sosial. Dalam Islam kita tidak hanya diwajibkan untuk menjaga hubungan dengan Tuhan (vertical) tetapi juga diwajibkan untuk menjaga hubungan antar sesama (horizontal).
Karena itu ukuran keshalehan dan keimanan seseorang tidak hanya diukur dari seberapa baik hubungan dia dengan Tuhannya, atau seberapa rajin ibadahnya (kesalehan individu) tetapi keimanan seseorang juga harus diukur dari seberapa baik hubungan dia dengan sesama, dengan tetangga dan masyarakat (kesalehan sosial). Sebab itulah, kenapa tujuan utama Rasulullah SAW diutus ke bumi ini untuk menyempurnakan akhlak manusia. Dalam makalah ini kami akan memaparkan hadits-hadits yang terkait erat dengan amar ma’ruf nahi munkar dan kepedualian sosial.
Hadits-hadits Amar Ma’ruf Nahi Munkar
1. Hadits Pertama: Kewajiban Amar Ma’ruf Nahi Munkar
عَنْ أَبِي سَعِيْد الْخُدْرِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُوْلُ : مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَراً فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ اْلإِيْمَانِ
[رواه مسلم]
Dari Abu Sa’id Al Khudri radiallahuanhu berkata : Saya mendengar Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : Siapa yang melihat kemunkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika tidak mampu maka rubahlah dengan lisannya, jika tidak mampu maka (tolaklah) dengan hatinya dan hal tersebut adalah selemah-lemahnya iman.
(HR Muslim)
2. Hadits Kedua: Ajakan Kepada Yang Ma’ruf Dan Menjauhi dari Yang Mungkar
عن حذ يفة رضي الله عن النبي صل الله عليه وسلم : والدى نفس بيده لتا مرن با لمعروف و لتنهون عن المنكر او ليوشكن الله ان يبعث عليكم عقا با منه ثم تد عونه فلا يستخا ب لكم
( رواه الترمذي. وقل: حديش حسن (
Artinya :
“ Huzaifah RA berkata bahwa Nabi SAW. Bersabda, “ Demi Allah yang jiwaku ada di tangan-Nya, kamu harus menganjurkan kebaikan dan mencegah kemungkaran, atau kalau tidak, pasti kalau tidak Allah akan menurunkan siksa kepada kamu, kemudian kamu berdoa, maka tidak diterima doa kamu”
( H.R. At-Tarmizi, dan menurutnya hadis ini hasan)
Bahwa umat Islam diperintahkan untuk menjaga saudara-saudaranya sesama manusia, khususnya umat Islam, untuk berbuat kebaikan yang diperintahkan Allah dan menjauhi segala kesesatan yang dilarang-Nya. Amar ma’ruf nahi mungkar itu sangat penting dalam ajaran Islam. Mereka yang melakukan akan dapat kemuliaan dan kebahagiaan. Kebahagiaan dan keberuntungan bukan saja milik mereka yang melakukan amal ma’ruf nahi mungkar, tetapi bagi mereka yang diajak apabila menuruti ajakan tersebut, manusia terkadang lupa diri, tidak ingat tujuan hidup dan kehendak kemana setelah hidup. Akibatnya, ia berbuat semena-mena tanpa kendali, tidak dapat membedakan mana perbuatan yang pantas dilakukan dan harus dilakukan dan mana perbuatan yang harus dihindari. keadaan seperti ini harus dihindari atau dikurangi bila ada segolongan orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Maka sesungguhnya mereka telah menolong saudaranya yang tengah lalai tersebut
3. Hadits Ketiga: Keutamaan Mengajak Kepada Kebaikan
عَنْ أًبى هُرَيْرَةَ رَضيَ اللهُ عَنْهُ قَال: قاَلَ رَسُوْلُ الله ص.م :مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا. (رواه مسلم ومالك وأبو داود والترمذى)
Artinya: Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah saw. Bersabda, “ Barang siapa yang mengajak kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa dikurangi dari mereka sedikit pun dan barang siapa yang mengajak kepada kesesatan, maka baginya dosa sebagaimana dosanya orang yang mengikutinya tanpa dikurangi dari mereka sedikitpun.”(HR. Muslim, Malik, Abu Dawud dan Tirmidzi)
Hadits di atas menjelaskan bahwa orang yang mengajak kepada kebaikan akan mendapat pahala sebesar pahala orang yang mengerjakan ajaknya tanpa dikurangi sedikit pun. Begitu pula orang yang mengajak kepada kesesatan akan mendapat dosa besar sebesar dosa orang yang mengerjakan ajakanya tanpa dikurangi sedikit pun. Tidak diragukan lagi bahwa hadits tersebut merupakan kabar gembira bagi mereka yang suka mengajak orang lain untuk mengerjakan kebaikan, Allah SWT memberikan penghargaan tinggi bagi mereka yang suka mengajak kepada kebaikan tentu saja bila ajakan itu didasarkan atas niat yang ikhlas, bukan untuk mencari materi dan keuntungan dunia.
Namun tidaklah demikian, tidaklah bijaksana jika seorang muslim hanya mengharapkan pahala dari melakulan amar ma’ruf dan nahi mungkar, sedangkan dia sendiri lupa untuk mengajak dirinya agar melaksanakan apa-apa yang ia ajarkan kepada orang lain, bagainanapun orang tersebut tidak lepas dari siksa Allah SWT, padahal di dalam Al-Quran telah dijelaskan sebagaimana dalam Q.S. Ash-Shaff [61] : 2-3 .Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”
Dengan demikian, sangatlah jelas bahwa mereka yang hanya dapat memberikan nasihat melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar kepada orang lain, tetapi dirinya lalai, dia tidak akan mendapat pahala, tapi murka Allah SWT. Dan diantara penyebab kesuksesan dakwah Nabi SAW, dalam waktu yang singkat sehingga mampu mengubah bangsa Arab yang terkenal jahiliyah dari segi akhlaknya dan keras perangainya, adalah sikap beliau yang tidak banyak bicara, tetapi juga melaksanakan segala sesuatu yang beliau ucapkan sebelum orang lain melakukanya. Beliau memberikan teladan dalam melaksanakan dan membuktikan apa yang diucapkanya.
Hadits-hadits Tentang Kepedulian Sosial
Hadits Pertama: Memperhatikan Kesulitan Orang lain
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَفَسَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَ نَفَّسَ اللهُ عَنْ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللهُ عَلَيْهِ فِى الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ فِى الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ وَاللهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَاكَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيْهِ. (أخرجه مسلم)
Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda, "Barangsiapa melepaskan kesusahan hidup seorang mukmin di dunia, niscaya Allah akan melepaskan kesusahan di hari kiamat darinya. Barangsiapa memudahkan urusan (mukmin) yang sulit, niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan di akhirat. Allah akan senantiasa menolong seorang hamba, selama hamba itu senantiasa menolong saudaranya." (H.R. Muslim).
Melepaskan kesusahan orang lain sangat luas maknanya, tergantung pada kesusahan yang sedang diderita oleh saudaranya seiman tersebut. Jika saudaranya termasuk orang miskin, sedangkan ia termasuk orang yang berkecukupan atau kaya, ia harus berusaha menolongnya dengan cara memberikan pekerjaan atau memberikan bantuan sesuai kemampuannya, jika saudaranya sakit, ia berusaha menolongnya, antara lain dengan membantu memanggilkan dokter atau memberi bantuan uang ala kadarnya guna meringankan biaya pengobatannya. Jika saudaranya dililit utang ia berusaha untuk mencarikan jalan keluar, baik dengan memberikan bantuan agar utangnnya cepat dilunasi, maupun sekedar memberikan arahan-arahan yang akan membantu saudaranya dalam mengatasi utangnya tersebut dan lain-lain.
Orang muslim yang membantu meringankan atau melonggarkan kesusahan saudaranya seiman berarti telah menolong hamba Allah SWT. Yang sangat disukai oleh-Nya dan Allah SWT pun akan memberikan pertolongannya serta menyelamatkannnya dari berbagai kesusahan, baik di dunia maupun di akhirat.
Sebagaimana firman-Nya. Artinya : Jika kamu menolong (agama) Allah , niscaya Allah pun akan menolong kamu semua.. Begitu pula orang yang membantu kaum muslimin agar terlepas dari berbagai cobaan dan bahaya, ia akan mendapatkan pahala yang lebih besar dari Allah SWT dan Allah SWT pun akan melepaskannya dari berbagai kesusahan yang akan dihadapinya, baik di dunia maupn di akhira
Hadits Kedua: Meringankan Beban dan Penderitaan Orang Lain
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اَلْمُسْلِمُ اَخُوالْمُسْلِمِ لَا يُظْلَمُهُ وَلَا يُسْلَمُهُ، مَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيْهِ، كَانَ اللهُ فِى حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَجَ اللهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللهُ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ.
(رواه البخارى ومسلم وأبوداود والنسائى والترميذى وقال: حسن صحيح)
Artinya : Diriwayatkan dari Ibn ‘Umar RA, Rasulullah SAW bersabda : “Seorang muslim adalah saudara dengan muslim yang lain, tidak boleh menganiaya, dan tidak boleh membiarkan saudaranya teraniaya. Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya, Allah akan membantu kebutuhannya. Barangsiapa melapangkan kesulitan seorang muslim, Allah akan melapangkan baginya kesulitannya pada hari kiamat. Dan barangsiapa menutupi aib seorang muslim, Allah akan menutupi aib nya pada hari kiamat.” (HR.Muslim).
Dalam Islam antara seorang muslim terhadap muslim lain adalah saudara dan tentunya ada salah satu kewajiban yang harus dipenuhi oleh seorang muslim terhadap saudaranya yaitu tidak boleh membuat saudaranya kesusahan, sengsara, kewajiban untuk mempermudah kepentigan (hajat atau kebutuhan saudaranya) dan kita sebagai seorang muslim harus memberi rasa aman terhadap saudara muslim yang lain. Maka dari itu, Allah SWT akan memberikan balasan terhadap seorang muslim yang memenuhi kewajiban antar sesama muslim tersebut pada hari kiamat.
DAFTAR PUSTAKA
1. Kitab Riyadhus Shalihin karya Imam Nawawi
2. Kitab Bulughul Maram Min Adillatil Ahkaam karya Al-Hafidz Imam Ibnu Hajar Al-Asqalany
3. Internet, link : http://makalahtugaspai.blogspot.co.id/2015/01/makalah-kepedulian-sosial.html
4. Internet, link : http://dikasudendi1015.blogspot.co.id/2015/11/hadis-ajakan-kepada-kebaikan.html
5. Internet, link : http://robisevilla.blogspot.co.id/2013/03/ajakan-kepada-yang-maruf-dan-menjahui.htm
Komentar
Posting Komentar