Tasawuf dan Perkembangannya

BAB I
Pendahuluan

1. Latar Belakang
Pada esensinya, agama Islam yang terdiri atas aqidah, syariat dan akhlak, merupakan agama yang sempurna dan semua ajarannya terintegral dan saling berkaitan. Aqidah menjelaskan syariat, syariat menjelaskan aqidah, dan aqidah serta syariat menjelaskan akhlak. Dalam pengejawantahannya kemudian melahirkan praktek-praktek yang beragam di kalangan umat Islam. Dan dalam sejarah kemudian kita mengenal adanya praktek-praktek sufi yang dijalani oleh beberapa orang dan kelompok.
Wacana tasawuf mengarahkan pikiran kita pada orang-orang saleh, banyak ibadah, menjaga tingkah laku pergaulannya dengan Allah SWT., dengan sesama manusia, dengan mahluk lain dan selalu ingin dekat dengan Allah pencipta semua mahluk. Namun demikian istilah ini merupakan istilah yang disandarkan pada sebuah gerakan batiniah dalam usaha untuk mendekatkan diri seorang hamba kepada sang Khalik.
Terdapat perbedaan pendapat berkaitan dengan kemunculan tasawuf dalam Islam. Ada yang berpendapat bahwa tasawuf baru muncul dalam Islam pada akhir abad ke II Hijriyah atau awal abad ke III Hijriyah, kelompok lain berpendapat bahwa praktek kehidupan sufi sudah ada sejak awal kemunculan Islam yang tercermin dalam kehidupan Nabi SAW., dan para sahabat serta jalan hidup yang ditempuh oleh beberapa kelompok di Madinah.
Pada makalah ini selain akan dipaparkan pengertian tasawuf serta istilah-istilah yang terkait dengan tasawuf yang dianggap penting, pemakalah juga merasa perlu untuk memaparkan sejarah dan perkembangannya hingga kini. Semoga apa yang ada makalah ini --dengan segala kekurangannya-- bisa menambah wawasan keislaman buat para pembaca pada umumnya dan pemakalah sendiri khususnya.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dipaparkan di atas, maka pemakalah mengemukakan rumusan masalah sebagai berikut:
a. Apa pengertian tasawuf?
b. Bagaimana sejarah dan perkembangan tasawuf?
c. Bagaimana perkembangan tasawuf saat ini?






BAB II
PEMBAHASAN


1. Pengertian Tasawuf
Tasawuf merupakan salah satu bidang kajian studi Islam yang memusatkan perhatiannya pada upaya pembersihan aspek batiniah manusia yang dapat menghidupkan kegairahan akhlak yang mulia. Jadi sebagai ilmu sejak awal tasawuf memang tidak bisa dilepaskan dari takiyah al-nafs (penjernihan jiwa). Upaya inilah yang kemudian dioperasikan dalam tahapan-tahapan pengendalian diri dan disiplin-disiplin tertentu dari satu tahap ke tahap berikutnya sehingga sampai pada suatu tingkatan (maqam) spiritualitas yang diistilahkan oleh kalangan sufi sebagai syuhud (persaksian), wajd (perjumpaan), atau fana’ (pengendalian diri). Dengan hati yang jernih menurut perseptif sufistik seseorang dipercaya akan dapat mengikhlaskan amal peribadatannya dan memelihara perilaku hidupnya karena mampu merasakan kedekatan dengan Allah yang senantiasa mengawasi setiap langkah perbuatannya. Jadi pada intinya, pengertian tasawuf merujuk pada dua hal: (1) penyucian jiwa (tazkiyatub nafs) dan (2) pendekatan diri (muraqabah) kepada Allah.
Definisi secara Etimologi
Asal istilah tasawuf merujuk ke beberapa kata:
a. صفى artinya suci bersih. Dalam pengertian ini orang yang ingin dekat dengan Allah SWT., aktifitasnya banyak diarahkan pada pensucian diri dalam rangka dekat dengan Allah SWT. Artinya Allah maha Suci tidak mungkin bisa didekati kecuali oleh orang-orang yang memelihara kesucian. Bishr bin al-Harith berkata:”sufi adalah orang yang hatinya suci/tulus kepada Allah.
b. صف artinya barisan atau barisan terdepan. Orang yang ingin dekat dengan Allah, pasti sudah kuat imannya. Oleh karena itu selalu ada pada barisan terdepan dalam hal ibadah.
c. اهل الصفة artinya penghuni serambi (masjid). Istilah ini disandarkan kepada orang yang ingin selalu dekat dengan Allah SWT., maka mereka ikut juga hijrah dengan Nabi dari Mekah ke Madinah. Di Madinah merreka tinggalnya di serambi masjid.
d. صوف artinya wol, bulu binatang kasar. Orang yang selalu dekat dengan Allah swa., hanya memakai alat berpakaian bulu binatang yang kasar, domba, unta dan sebagainya, ini hanya pandangan saya karena kaum sufi tidak mencirikan dirinya dengan memakai pakaian dari bulu.
e. Pendapat yang lain mengatakan bahwa istilah Tasawuf derasal dari bahasa Yunani yaitu Sophos atau Shofia artinya hikmah atau bijaksana. Pendapat ini merupakan pendapat mayoritas kaum orientalis. Ahli-ahli sofia adalah orang yang ahli dalam filsafat atau kebijaksanaan. Mereka menambahkan bahwa dalam tradisi Arab kata sofia direduksi menjadi kata shufiya untuk menunjukkan kepada orang-orang ahli ibadah dan ahli filsafat agama.
Dari lima pendapat di atas, maka secara etimologis kata tasawuf lebih dekat dengan kata صوف. Sebagaimana pendapat Ibn Khaldun bahwa kata Sufi merupakan kata jadian dari kata Suf. Tapi perlu diingat, bukan sekedar karena ia memakai pakaian yang terbuat dari kain bulu dan wol kasar maka seseorang disebut sufi. Seseorang menggunakan wol hanya sebagai symbol kesucian, mereka menyiksa dan menekan hawa nafsu dan berjalan di jalan Nabi.
Definisi secara Terminologi
Ada banyak definisi yang telah dibuat oleh para ulama untuk menjelaskan pengertian tasawuf secara terminologi. Berikut beberapa diantaranya:
Menurut Abu Qasim al-Qusyaeri (376-466), tasawuf ialah penjabaran ajaran Al-quran, sunnah, berjuang mengendalikan hawa nafsu, menjauhi perbuatan bid’ah, mengendalikan syahwat, dan menghindari sikap meringankan ibadah.
Menurut Ahmad Amin, tasawuf ialah bertekun dalam ibadah, berhubungan langsung dengan Allah SWT., menjauhkan diri dari kemewahan duniawi, berlaku zuhud terhadap yang diburu oleh orang banyak, dan menghindari dari mahluk dalam berkhalwat untuk beribadah.
Sedang tasawuf menurut Zakaria al- Anshari ialah mengajarkan cara untuk mensucikan diri, meningkatkan akhlak, berlaku zuhud terhadap yang diburu oleh orang banyak, dan menghindari dari mahluk dalam berkhalwat untuk beribadah mendekatkan diri kepada Allah dan memperoleh hubungan langsung dengannya.
Dan menurut Ibrahim Hilal dalam bukunya ‘Tasawuf Antara Agama dan Filsafat’, bahwa tasawuf pada umumnya bermakna menempuh kehidupan zuhud, menghindari gemerlap kehidupan dunia, rela hidup dalam keprihatinan, melakukan berbagai jenis amalan ibadah, melaparkan diri, mengerjakan shalat malam, dan melakukan berbagai jenis wirid sampai fisik atau dimensi jasmani seseorang menjadi lemah dan dimensi jiwa atau ruhani menjadi kuat.
Kemudian menurut Muhammad Zaki Ibrahim mendefinisikan tasawuf adalah jalan menuju kedekatan kepada Allah SWT dengan cara melepaskan diri dari segala sesuatu yang rendah dan hina dan berpegang teguh kepada Sunah Rasulullah SAW. Tasawuf adalah usaha untuk membangun manusia dalam tutur kata, perbuatan, serta gerak hati –baik dalam skala kecil, yaitu pribadi atau dalam skala yang lebih besar—dengan menjadikan hubungan kepada Allah SWT sebagai dasar bagi semua itu.
Apabila melihat beberapa definisi di atas, maka dapat diperoleh ungkapan yang singkat dan padat yang mencakup dua segi yang keduanya membentuk satu kesatuan yang saling menunjang dalam mendefinisikan tasawuf yang pertama adalah cara dan yang kedua adalah tujuan. Cara, diantaranya melaksanakan berbagai rangkaian peribadatan, latihan-latihan rohani seperti zuhud. Sedangkan tujuannya ialah mendekatkan diri kepada sang Khalik yang puncaknya ialah penyaksian (masyadah).
2. Awal Mula dan Sejarah Perkembangan Tasawuf
Istilah Sufi baru muncul kepermukaan pada abad kedua Hijriyah, sebelum itu kaum muslimin dalam kurun awal Islam sampai abad pertama Hijriyah belum mengenal istilah tersebut. Namun bentuk amaliah para sufi itu tentu sudah ada sejak dari awal kelahiran Islam itu dibawa oleh Rasulullah Muhammad SAW., bahkan sejak manusia diciptakan.
Sejarah historis ajaran tasawuf mengalami perkembangan yang sangat pesat, berawal dari upaya meniru pola kehidupan Rasulullah SAW., baik sebelum menjadi Nabi dan terutama setelah beliau bertugas menjadi Nabi dan Rasul, perilaku dan kepribadian Nabi Muhammad lah yang dijadikan tauladan utama bagi para sahabat yang kemudian berkembang menjadi doktrin yang bersifat konseptual. Tasawuf pada masa Rasulullah SAW adalah sifat umum yang terdapat pada hampir seluruh sahabat-sahabat Nabi tanpa terkecuali.
Pada awal perkembangan tasawuf, sekitar abad 1 dan ke-2 H, tasawuf ditandai oleh menonjolnya sifat zuhud. Pada fase inilah muncul zahid muslim yang termasyur di kota- kota seperti Madinah, Kufah, Basra, Balk, dan juga kawasan Mesir. Mereka merupakan gerakan yang menginginkan agar kaum muslim hidup secara sederhana, sebagaimana dicontohkan dalam kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabatnya.
Para ahli sejarah tasawuf menilai bahwa timbulnya gerakan tersebut tidak terlepas dari kondisi kehidupan masyarakat-terutama di kalangan istana Bani Umayyah- yang oleh sahabat dinilai telah menyimpang terlalu jauh dari kehidupan yang diajarkan Nabi Muhammad SAW dan para sahabat besar yang saleh dan sederhana.
Di Madinah, Sa’id bin Musayyab (w. 91 H), murid dan menantu Abu Hurairah ra (salah seorang ahl as-suffah), mencontohkan hidup zuhud kepada para pengikutnya. Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa suatu kali ia ditawari sejumlah tiga puluh lima ribu dirham uang perak. Ia menolaknya dan beliau memandang para penguasa Bani Umayyah-kata Ibnu Khallikan, penulis biografi tokoh-tokoh Islam klasik- sebagai tiran, sehingga tidak mau membaiat Abdul Malik bin Marwan ketika naik tahta kerajaan.
Menurut catatan sejarah dari sahabat Nabi yang pertama sekali melembagakan tasawuf dengan cara mendirikan madrasah tasawuf adalah Huzaifah bin Al-Yamani, sedangkan Imam Sufi yang pertama dalam sejarah Islam adalah Hasan Al-Basri (21-110 H) seorang ulama tabi’in, murid pertama dari Huzaifah Al-Yamani beliau dianggap tokoh sentral dan yang paling pertama meletakkan dasar metodologi ilmu tasawuf. Hasan Al-Basri adalah orang yang pertama mempraktekkan, berbicara menguraikan maksud tasawuf sebagai pembuka jalan generasi berikutnya.
Tasawuf sebagai sebuah disiplin keilmuan Islam, baru muncul pada abad ke II H/XIII M, atau paling tidak dalam bentuk yang lebih jelas pada abad ke III H/X M. Namun, sebagai pengalaman spiritual, tasawuf telah ada sejak adanya manusia, usianya setua manusia. Semua nabi dan rasul adalah sufi, yang tidak lain adalah manusia sempurna (insan kamil). Nabi Muhammad adalah sufi terbesar karena beliau adalah manusia sempurna yang paling sempurna.
Untuk mengetahui perkembangan tasawuf, berikut ini ringkasan yang bisa menjelaskan lebih rinci:
o Masa Rasulullah belum ada istilah tasawuf.
o Benih-benih tasawuf ditemukan pada perilaku dan sifat Nabi, seperti ketika berkhalwat di gua hira.
o Kehidupan para sahabat juga mencerminkan kehidupan sebagai sufi seperti sikap zuhud dan qana’ah.
o Masa Tabi’in: ada istilah Nussak, yaitu orang-orang yang menyediakan dirinya untuk beribadah kepada Allah. Tokohnya Hasan Basri, yang benar-benar mempraktekkan tasawuf dengan memunculkan konsep khauf dan raja’.
o Istilah tasawuf muncul pada abad ke 2 H. Kata sufi pertama kali digunakan oleh Abu Hasyim, seorang Zahid dari Syria (w. 780 M). Dia mendirikan Takya, semacam padepokan sufi yang pertama.
o Tasawuf muncul sebagai respon terhadap praktek kehidupan para raja yang penuh dengan kemewahan. Para sufi memperbanyak zikir, zuhud, tadarus al-Qur’an, salat sunnah dan sebagainya. Tasawuf menjadi pengajian yang dipimpin oleh guru sufi.
o Abad ke 3 H: muncul tasawuf yang menonjolkan pemikiran eksklusif (tasawuf falsafi) seperti Al-Hallaj dengan konsep hulul.
o Abad ke 5 H: muncul Al-Ghazali, yang mendasarkan tasawuf hanya pada al-Qur’an dan hadis dan bertujuan asketisme, hidup sederhana, pelurusan jiwa, dan pembinaan moral.
o Abd ke 6 H berkembang tarekat-tarekat untuk melatih dan mendidik para murid seperti yang dilakukan oleh Sayid Ahmad Rifa’I (w. 570 H), dan Sayid Abdul Qadir Jaelani (w. 651 M).
o Sejak abad ke 6 H muncul perpaduan antara tasawuf akhlaki dengan falsafi dengan tokoh seperti: Suhrawardi Al-Maqtul dan Ibn Arabi.

3. Tasawuf Modern; Pembaharu Tasawuf Klasik
Setelah sempat mengalami kemunduran dan penyimpangan, geliat tasawuf kembali muncul ketika para sufi seperti Suhrawardi, Mulla Sadra, Abu Mansyur al-Hallaj merintis semangat neo-sufisme dengan mengedepankan syari’at Islam yang terkandung dalam ajaran Al-Qur'an dan As-Sunah. Dengan memegang teguh Al-Qur'an dan Sunnah, sedikit berbeda dengan paradigma sufisme awal (tasawuf klasik) yang sering menjerumuskan orang ke dalam pasivitas hidup, akan tetapi dengan kebangunan neo sufisme justru lebih menekankan aktifisme salafi dan menanamkan kembali sikap positif kepada dunia dan mengharapkan kebahagiaan akhirat. Praktik tasawuf modern mengarah pada perilaku kaum muslimin yang proaktif dalam menggapai kebahagiaan dunia dengan berbagai langkah yang telah diajarkan dalam al-Qur'an dan berbagai fatwa Rasulullah SAW, yang di dalamnya tertanam sikap untuk tidak meninggalkan kemalasan dan kebodohan dengan menggunakan waktu yang sebaik-baiknya untuk tujuan yang bermanfaat.
Di Indonesia sendiri tokoh yang mempelopori semangat tasawuf modern adalah Hamka. Buya Hamka –demikian biasa dipanggil— menekankan agar kaum muslimin menjalankan tugas-tugas keduniaan untuk pemenuhan spiritual. Menurutnya, ajaran yang diemban sufi (pelaku tasawuf) yang sebenarnya bukanlah sufi yang mengelienasikan diri dari kehidupan masyarakat (zuhud dan uzlah belaka), melainkan seorang sufi yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran (amar ma’ruf nahi munkar), membantu orang sakit dan miskin sekaligus membebaskan orang-orang yang tertindas. Mereka justru mampu melakukan ta’awun (memberi pertolongan) kepada muslim lain dan sesama manusia secara umum untuk kemajuan masyarakat. Inilah beberapa praktek tasawuf di era modern yang menekankan pentingnya aktivisme intelektual dan aktivisme spiritual dalam bentuk-bentuk normatif maupun fenomena masyarakat yang lebih praktis. Langkah semacam ini diharapkan membentuk jiwa sufi yang sempurna (insan kamil) dan benar-benar menjalankan esensi ajaran Islam yang kaffah. Standarisasi dan perspektif inilah nampaknya yang senantiasa menjadi semacam cerminan bagi Hamka untuk menilai ulang tentang “fungsi tasawuf”. Pemikiran Hamka tentang tasawuf tertuang dalam bukunya yang terkenal “Tasawuf Modern”.
Konsep tasawuf yang ditawarkan Hamka berisi tentang ajaran menuju jalan kebahagiaan, pemenuhan kesehatan jiwa dan badan, bersikap qana’ah dan mempertanggungjawabkan diri seseorang serta tawaakal kepada Allah SWT. Semuanya merupakan suatu bentuk realisasi ajaran tasawuf dengan mengedepankan kebahagiaan di dunia dan akhirat, dengan memposisikan aktifitas manusia yang amar ma’ruf nahi munkar. Hal ini sebagaimana yang terdapat pada diri Nabi Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya (salafus shalihin).
Ada beberapa hal menarik berkenaan dengan “Tasawuf Modern” yang ditawarkan Hamka:
a. Kebahagiaan hakiki yang ditempuh manusia adakalanya mengalami kemudahan dan kesukaran. Namun hal itu bukan menjadi rintangan bagi umat Islam dalam mengarungi samudra kehidupan ini dalam upayanya menempuh suatu kebahagiaan.
b. Berkaitan dengan kesehatan jiwa dan badan, Hamka menuturkan perlunya keseimbangan dari keduanya. Kalau jiwa dalam kondisi sehat dengan sendirinya akan terpancar bayangan kesehatan kepada mata yang darinya memancar nur yang gemilang timbul dari sukma yang tiada sakit. Demikian juga kesehatan badan yang akan membukakan pikiran, kecerdasan akal, menyebabkan kebersihan jiwa seseorang.
c. Qana’ah. Qana’ah ialah menerima dengan cukup dan di sisi lain Hamka menyebutkan bahwa qana’ah adalah kesederhanaan.
d. Jalan yang harus ditempuh dalam bertasawuf adalah tawakal kepada Allah SWT, yaitu dengan menyerahkan keputusan segala perkara, ikhtiar dan usaha kepada Tuhan semesta alam. Dalam bertawakal kepada Allah SWT ini sebagai bentuk pengabdian penuh kepada-Nya dengan tanpa mengganggu gugat keputusannya atas kekuasaan dan kekuatan-Nya dalam menitahkan alam semesta beserta isinya. Hal ini merupakan perwujudan tanda kepatuhan yang setulus-tulusnya pada diri manusia dalam mengusahakan langkah yang ditempuh dengan menyerahkan keputusan akhir hanya kembali kepada Allah SWT.


BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Demikianlah penjelasan singkat mengenai tasawwuf sebagaimana terpaparkan di atas. Dan sebagai akhir dari pembahasan bisa di tarik kesimpulan di antaranya:
1. Tasawuf pada umumnya merupakan usaha untuk melaksanakan ajaran agama Islam secara murni dengan maksud untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara menempuh kehidupan zuhud, menghindari gemerlap kehidupan dunia, rela hidup dalam keprihatinan, melakukan berbagai jenis amalan ibadah, melaparkan diri, mengerjakan shalat malam, dan melakukan berbagai jenis wirid sampai fisik atau dimensi jasmani seseorang menjadi lemah dan dimensi jiwa atau ruhani menjadi kuat.
2. Embrio munculnya praktek sufi dan ajaran tasawuf dalam Islam telah ada sejak masa kehidupan Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Dan menjadi sebuah gerakan yang terperinsip dan menjadi sebuah cabang keilmuan pada akhir abad ke II Hijriyah.
3. Perkembangan tasawuf di era modern dengan semangat neo sufisme yang dirintis oleh Suhrawardi, Mulla Sadra, al-Hallaj, dan Hamka di Indonesia, ingin mengedepankan syari’at Islam yang terkandung dalam ajaran Al-Qur'an dan Sunnah. Praktik tasawuf modern mengarah pada perilaku kaum muslimin yang proaktif dalam menggapai kebahagiaan dunia dengan berbagai langkah yang telah diajarkan dalam Al-Qur'an dan berbagai fatwa Rasulullah SAW, yang di dalamnya tertanam sikap untuk tidak meninggalkan kemalasan dan kebodohan dengan menggunakan waktu yang sebaik-baiknya untuk tujuan yang bermanfaat. []

Daftar Pustaka
Khamid, M.Pd.I, Drs. H, Kumpulan Materi Kuliah: Pendidikan Agama Islam, Jakarta: 2016
Ibrahim, Muhammad Zaki, Tasawuf Salafi: Menyucikan Tasawuf dari Noda-Noda, Jakarta: Hikmah, 2002
Mahjuddin, Drs., Pendidikan Hati: Kajian Tasawuf Amali, Jakarta: Kalam Mulia, 2001

Sumber Internet
Link http://ansarbinbarani.blogspot.co.id/2015/12/tasawwuf.html . Diakses, 22 Maret 2016
Link http://www.perkuliahan.com/makalah-tentang-akhlak-tasawuf/ . Diakses, 22 Maret 2016
Link http://www.library.walisongo.ac.id /digilib/files/disk1/30/jtptiain-gdl-s1-2006-dinanim110-1475-bab4_110-1.pdf. Diakses, 22 Maret 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisa Standar Isi Mata Pelajaran PAI Tingkat SMP dan MTs

KONSEP PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP, DASAR PEMIKIRAN DAN IMPLIKASINYA

THAHARAH, WUDHU DAN TAYAMUM