Mudik 1436 H : Kangen Lebaran di Kampung Halaman

Hi para pembaca berjumpa lagi dengan saya melalui tulisan ini. Sudah lebih dari setengah tahun tidak menulis di blog ini, maklum lagi datang rasa malasnya. Selain karena sok sibuk dengan rutinitas, rasa malas dan gairah untuk menulis seringkali datang menghampiri. Yaa iman saja suka naik-turun, emosi juga naik-turun, nah begitu lah gairah menulisku juga naik-turun. Singkat cerita, berawal dari browsing sana sini, tak sengaja nyangkut di blog yang sudah lama tidak saya tengok ini. Ternyata sudah setengah tahun lebih tidak ada tulisan baru hehe. Untuk menghilangkan image blog yang tak terupdate, maka saya akan merilis satu tulisan baru, atau lebih tepatnya curhatan di akhir Ramadhan hehe...

Tak terasa saat ini sudah berada pada akhir Bulan Ramadhan 1436 H atau Juli 2015. Tentu kita aware bahwa setiap kali di akhir Ramadhan itu yang menjadi trending topic adalah fenomena Mudik. Yaa..fenomena sosial itu hanya ada di Indonesia, negara yang kita cintai ini. Saking mengakarnya budaya ini, ada pepatah yang mengatakan "Tidak ada lebaran kalau tidak ada mudik". Memang mudik atau pulang kampung adalah satu ritual yang harus dilakukan oleh orang-orang yang ada dalam perantauan. Mudik akan menjadi asyik jika keberhasilan selama di rantauan mendampingi kita, tapi jika didampingi kegagalan maka akan membuat malu pada diri kita dan keluarga. Tidak jarang orang terpaksa menampilkan kesuksesan semu. Misal, pulang kampung membawa mobil baru padahal mobil rentalan, pulang kampung dengan motor baru padahal motor boleh pinjem, dan cara-cara lainnya. Tentu itu sebenarnya kurang baik buat kita, artinya kita membohongi diri sendiri. Tapi itulah realita di masyarakat kita, harga diri jauh lebih penting dari segalanya.

Ngomong-ngomong soal mudik, hingga kini saya masih belum berkesempatan untuk mudik ke kampung halaman. Semenjak menikah kurang lebih 7 tahun lalu saya harus memilih untuk mudik ke kampung yang lebih dekat, yaitu kampung istri di daerah Banten. Selain alasan ekonomis, pertimbangan macet dan jarak tempuh yang jauh serta kesiapan fisik anak-anak ku yang masih kecil menjadi semua pertimbangan. Sebenarnya sih kangen dengan suasana lebaran di kampung sendiri. Siapa sih yang tidak mau mengenang keindahan masa lalu, keindahan masa kanak-kanak? pastinya semua orang akan rindu hal itu. Meskipun tidak bisa mudik ke kampung halaman sendiri, dengan kemajuan teknologi seperti sekarang rasa kangen dengan orang tua dan sanak saudara akan sedikit terobati. Dengan menelpon melalui Hp, BBM-an, Whatapp-an maka yang jauh bisa terasa dekat. Jangankan antar provinsi, antar negara saja bisa menjadi serasa dekat. Dengan kemajuan teknologi, kini dunia ada dalam genggaman. Meskipun begitu, tetap saja pertemuan secara face to face itu pasti beda rasanya jika hanya mendengar suara dan melihat gambar/video. Maafin saya ya Bapak dan Ibu, belum bisa sungkem langsung di pangkuanmu. Doakan anakmu yang lemah ini, yang kecil ini, yang dhalim ini....semoga menjadi anak yang shaleh dan bisa membahagiakanmu kelak. Saya yakin tanpa ridhamu, semua ibadahku tidak akan di ridhai oleh Nya. Saya berjanji suatu saat nanti pasti anakmu ini akan pulang dan sungkem saat lebaran di pangkuanmu, bersama-sama memakan ketupat dan kue lebaran. Duh indahnya....salam kangen dari anakmu, beserta menantu dan cucu-cucumu

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisa Standar Isi Mata Pelajaran PAI Tingkat SMP dan MTs

KONSEP PENDIDIKAN SEUMUR HIDUP, DASAR PEMIKIRAN DAN IMPLIKASINYA

THAHARAH, WUDHU DAN TAYAMUM